Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 23 September 2018 | 10:31 WIB

DPR Minta Unicorn Jaga Rupiah dan Investasi

Rabu, 12 September 2018 | 18:27 WIB

Berita Terkait

DPR Minta Unicorn Jaga Rupiah dan Investasi
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Besarnya jumlah pengguna internet menjadi modal kuat bagi Indonesia menjadi ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebut 143,26 juta orang Indonesia adalah pengguna internet pada akhir 2017.

Jelaslah, jumbonya pengguna internet merupakan pasar yang menggiurkan bagi perusahaan rintisan (start-up) yang bermimpi menjadi Unicorn. Saat ini, terdapat empat unicorn, yakni GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Satya Yudha meminta, khususnya GoJek tidak melakukan ekspansi ke Vietnam, di tengah pelemahan pasar domestik. Harusnya, GoJek meningkatkan penguasaan pasar di dalam negeri, seperti dilakukan di China.

"Pasar dalam negeri masih luas. Pemain didorong untuk menjadi penguasa dalam negeri. Baru kuasai pasar luar negeri. Belajar dari China yang punya keunggulan komparatif dan kompetitif dengan teknologi yang dimiliki," kata Satya di Jakarta, Rabu (12/9/2018)

"Ekspansi ke Vietnam yang nikmati nanti justru mereka terutama dari sisi value chain," tambahnya.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, Eva Kusuma Sundari menilai, kehadiran Unicorn membantu pemerintah yang sedang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi di tanah air.

Namun, para Unicorn ini seharusnya mampu lebih memahami peran mereka dalam pergerakan ekonomi Indonesia, di saat rupiah tengah melemah.

"Indonesia perlu tingkatkan index kompetisi agar para unicorn tetap stay menggarap pasar dalam negeri, karena potensi kita sangat besar," ujarnya.

Sementara, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mendesak pemerintah membuat aturan yang jelas soal kinerja para unicorn.

Dia menilai, pemerintah kurang antisipasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital. "Regulasi tidak ada. Yang sekarang hanya bersifat parsial. Contoh ride sharing hanya diatur PP Menhub. Padahal bisnis unicorn seperti GoJek berkembang luas menjadi 10 bidang," jelasnya.

"Perlu peta jalan dan blueprint yang jelas. Polemik dapat diakhiri kalau regulator memiliki aturan. Ekonomi digital adalah keniscayaan. Tinggal aturan yang jelas untuk meminimalkan ekses. Kita harus maksimalkan manfaatnya," imbuh Enny.[tar]

Komentar

x