Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 23:44 WIB

Pertamina Kekurangan FAME, Ini Reaksi Wamen ESDM

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 21 September 2018 | 15:38 WIB

Berita Terkait

Pertamina Kekurangan FAME, Ini Reaksi Wamen ESDM
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Penyaluran atau pasokan Fatty Acid Methyl Esters (FAME) ke terminal bahan bakar minyak untuk mandatori B20 mulai menemukan kendala. Dari 112 terminal BBM Pertamina, baru 69 yang mendapat pasokan FAME.

Wakil Menteri Eenergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak menepis madatori B20 yang berlaku sejak 1 September 2018 lalu menemukan kendala. Pihaknya masih mencari tahu kendala tersebut.

"Kami berusaha, ada kendala ada teknis, ada kendala distribusi, dan lain-lain, ada kendala penyimpanan, ini sedang diatasi," kata Arcandra di kantornya, Jumat (21/9/2018).

Dari beberapa kendala itu, dia tidak menyebut secara rinci kendala apa yang dihadapi pemasok FAME ke Pertamina. "Kan macam-macam kendalanya. Jadi distribusi tadi, harganya kan sudah ditetapkan," ujar dia.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati sebelumnya menyebut, dari 112 terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) baru 69 yang sudah menerima penyaluran FAME. Padahal semua TBBM Pertamina sudah siap mengolah FAME.

Menurut Nicke, sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi

"Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, Jumat (21/9/2018).

Sementara Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas'ud Khamid menjelaskan, keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan suplai FAME dari para produsen.

Dia mencontohkan, terminal BBM Plumpang di Jakarta sepanjang 15-20 September 2018 tidak bisa optimal memproduksi B20 karena kekurangan pasokan dari produsen FAME. Sementara di sisi lain, Pertamina tetap harus memproduksi BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang suplai ada dari mitra yang produksi FAME. Begitu FAME datang bisa langsung kami di-blending dan jual," ujar dia.

Mas'ud menyebutkan, total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun.

"Total konsumsi solar subsidi dan non subsidi 29 juta kiloliter per tahun," jelas dia.

Terkait adanya denda sebesar Rp6.000 per liter bagi badan usaha BBM yang tidak melakukan pencampuran FAME, Mas'ud menyatakan pihaknya akan berdiskusi dengan pemerintah terkait hal ini.

"Denda ini kami dukung supaya disiplin. Tapi kalau kondisi di lapangan suplai FAME-nya tidak ada, kami juga tidak bisa mengolah dan menyalurkan B20. Jadi ini harus didiskusikan lagi dengan pemerintah," ujar dia.

Mas'ud menegaskan perseroan berkomitmen terus mendukung seluruh kebijakan pemerintah.

Pertamina berharap perluasan penggunaan B20 pada produk BBM Diesel ini dapat mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi kendaraan pribadi, sekaligus dapat mengurangi impor BBM sehingga akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan dan penggunaan devisa negara. [jin]

Komentar

x