Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 18:15 WIB

Program Satu Juta Rumah, Basuki Terus Kejar

Oleh : M Fadil Djailani | Sabtu, 22 September 2018 | 18:09 WIB

Berita Terkait

Program Satu Juta Rumah, Basuki Terus Kejar
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan capaian Program Satu Juta Rumah di 2018 bisa lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya.

Catatannya, pada 2015, realisasi Program Satu Juta rumah sebanyak 669.770 unit. Setahun berikutnya mencapai 805.169 unit, dan 2017 sebanyak 904.758 unit. Untuk 2018, per 20 Agustus 2018 sudah mencapai 582.638 unit.

"Dalam penyediaan rumah, Pemerintah telah mencanangkan Program Satu Juta Rumah yang bertujuan mempercepat pembangunan perumahan melalui deregulasi berupa penyederhanaan proses perijinan, pembangunan rumah dan dukungan pembiayaan kepemilikan rumah bagi MBR," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (22/9/2018).

Melalui Program Satu Juta Rumah, pemerintah bersama seluruh stakeholder perumahan, seperti pengembang, pemerintah daerah dan perbankan, berupaya mengurangi backlog di tanah air. Berdasarkan konsep kepemilikan rumah, angka backlog mencapai 11,4 juta unit pada 2015. Ditargetkan turun menjadi 6,8 juta unit pada 2019.

Dari target satu juta rumah yang dibangun tiap tahunnya, kemampuan anggaran pemerintah pusat dan daerah diperkirakan hanya 20%-nya saja. Baik itu melalui pembangunan rumah swadaya, rumah susun, rumah khusus dan bantuan stimulan prasarana sarana utilitas (PSU).

Sebanyak 30% akan dipenuhi melalui pembangun rumah oleh swasta dengan subsidi dari Pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki rumah.

Sejumlah program yang sudah berjalan seperti KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga Kredit Perumahan (SSB), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Selebihnya diharapkan dipenuhi dari pengembang swasta dengan memanfaatkan kemudahan perizinan dan perubahan regulasi lainnya.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid mengatakan, untuk mengejar kebutuhan rumah, salah satu upaya adalah meningkatkan jumlah hunian vertikal terutama di kota-kota besar melalui pembangunan rumah susun baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta.

"Untuk Rusunawa yang sudah dibangun Kementerian PUPR, salah satunya adalah Rumah Susun Atlet Kemayoran dan yang sedang dalam proses konstruksi adalah Rusunawa Pasar Rumput. Jumlah Rusunawa yang sudah dibangun tahun 2015, ebanyak 220 Tower dengan 10.497 Unit, sedangkan di tahun 2016 sebanyak 129 Tower yang memiliki kapasitas 7.740 unit," terangnya.

Pada 2017, lanjut Khalawi, dibangun sebanyak 107 tower dengan jumlah 13.251 unit rusun yang tersebar di seluruh provinsi. Sehingga, total 456 tower dengan jumlah 31.488 unit satuan rusun," kata Khalawi.

Khalawi menambahkan, terdapat sejumlah tantangan dalam menyediakan rumah rakyat, seperti harga tanah. "Untuk membangun Rusun, sulit mendapatkan tanah yang harganya terjangkau di Jakarta. Sebab lahan di Jakarta sudah dimiliki oleh pengembang swasta. Solusinya yang terus kita kembangkan antara lain Land Bank System serta pendayagunaan aset tanah milik negara," ujarnya.

Kemudian, regulasi yang menghambat dimana telah diatasi pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan guna mempermudah dan mempercepat perizinan pembangunan perumahan. Kemudian terbatanya mampuan pembiayaan pemerintah juga menjadi tantangan yang perlu dicarikan jalan keluarnya. Untuk mengatasinya, antara lain meningkatkan peran swasta untuk ikut membangun rumah baik untuk rumah subsidi maupun non subsidi. [ipe]




Komentar

x