Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 05:39 WIB

Eks Dirut Pertamina Karen Ngaku Bingung Kasusnya

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 25 September 2018 | 05:09 WIB

Berita Terkait

Eks Dirut Pertamina Karen Ngaku Bingung Kasusnya
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen G. Agusetiawan - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen G. Agusetiawan, merasa bingung atas investasi Pertamina di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia berujung pidana.

Demikian disampaikan Karen melalui kuasa hukumnya, Susilo Ari Wibowo. Menurut Susilo, investasi yang dilakukan kliennya bukanlah suatu tindak pidana. "Saya melihat ini sebenarnya bukan ranah pidana sekalipun menimbulkan kerugian negara. Kan tidak harus ada kerugian negara ada tindak pidana nanti dulu," kata Susilo dalam sambungan telpon, Jakarta, Senin (24/9/2018).

Kemudian, apa yang dilakukan oleh kliennya sudah melalui prosedur di Pertamina. Berkiatan pernyataan penyidik yang menyebut investasi dilakukan oleh Karen tidak seizin Komisaris, hal itu bukanlah tindak pidana.

"Penyidik menduga bahwa itu tidak izin dewan komisaris untuk investasi itu ranahnya pun bukan ranah pidana. Kan komisaris bisa juga memberhentikan sementara," ujar dia.

Dengan begitu, tekan dia, investasi ini tidak bisa dibawa kepada ranah pidana. "Tidak cukup kuat untuk membawan ini ke ranah pidana. Karena tidak ada unsur penyuapan, tidak ada penerimaan uang," ujar dia.

Karen diketahui ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi investasi Pertamina di Blok Baster Manta Gummy (BMA) Australia dan saat ini sudah ditahan.

Adapun Kasus dugaan korupsi ini bermula saat Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akuisisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG.

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase-BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai US$31 juta.

Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari.

Namun ternyata Blok BMG hanya bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.

Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Hasil penyidikan Kejagung menemukan dugaan penyimpangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasibility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir.

Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Akibatnya, muncul dugaan kerugian keuangan negara dari Pertamina sebesar US$31 juta dan US$26 juta, atau setara Rp568 miliar. [ipe]


Komentar

x