Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 09:05 WIB

Pasokan FAME Rendah, Upaya Menggagalkan B20?

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 27 September 2018 | 02:29 WIB

Berita Terkait

Pasokan FAME Rendah, Upaya Menggagalkan B20?
Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur PT Pertamina Gandhi Sriwidodo

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur PT Pertamina Gandhi Sriwidodo bilang, pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Ester), bahan baku B20 baru 62% dari kebutuhan.

"Realisasi penerimaan itu baru 224 ribu KL, ada sekitar 100 ribu KL yang belum kami terima. Itu 62 persen dari PO September yang kami berikan," kata Gandhi di DPR, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Dengan begitu, sejak diberlakukan penyaluran B20 pada 1 September 2018 belum bisa maksimal. Sebab, pasokan FAME yang perlukan oleh pihaknya juga terlambat datang.

Guna mengantisipasi masalah ini, dia menyarankan sebaiknya FAME untun PSO dan Non PSO dipasol oleh satu pemasok. Tujuannya agar tidak ada keterlambatan pasokan lagi di kemudian hari.

"Supply FAME PSO non PSO itu bisa satu supplier saja harapan kami. Antara dua itu sulitkan. Harga acuan antara PSO dan non PSO bisa disatukan," ujar dia.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati sebelumnya menyebut, dari 112 terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) baru 69 yang sudah menerima penyaluran FAME. Padahal semua TBBM Pertamina sudah siap mengolah FAME.

Menurut Nicke, sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi

"Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, Jumat (21/9/2018).

Sementara Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas'ud Khamid menjelaskan, keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan suplai FAME dari para produsen.

Dia mencontohkan, terminal BBM Plumpang di Jakarta sepanjang 15-20 September 2018 tidak bisa optimal memproduksi B20 karena kekurangan pasokan dari produsen FAME. Sementara di sisi lain, Pertamina tetap harus memproduksi BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang suplai ada dari mitra yang produksi FAME. Begitu FAME datang bisa langsung kami di-blending dan jual," ujar dia.

Mas'ud menyebutkan, total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun. "Total konsumsi solar subsidi dan non subsidi 29 juta kiloliter per tahun, " jelasnya.

Terkait adanya denda sebesar Rp 6.000 per liter bagi badan usaha BBM yang tidak melakukan pencampuran FAME, Mas'ud menyatakan pihaknya akan berdiskusi dengan pemerintah terkait hal ini.

"Denda ini kami dukung supaya disiplin. Tapi kalau kondisi di lapangan suplai FAME-nya tidak ada, kami juga tidak bisa mengolah dan menyalurkan B20. Jadi ini harus didiskusikan lagi dengan pemerintah," ujar dia.

Mas'ud menegaskan perseroan berkomitmen terus mendukung seluruh kebijakan pemerintah. Pertamina berharap perluasan penggunaan B20 pada produk BBM Diesel ini dapat mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi kendaraan pribadi, sekaligus dapat mengurangi impor BBM sehingga akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan dan penggunaan devisa negara. [ipe]


Komentar

x