Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 16 Desember 2018 | 21:12 WIB

Pengusaha Siap Mendekat ke Sentra Jagung

Selasa, 2 Oktober 2018 | 13:17 WIB

Berita Terkait

Pengusaha Siap Mendekat ke Sentra Jagung
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Pelaku usaha pakan ternak menyambut positif usul pemerintah, agar industri pakan mendekatkan pabriknya ke sumber produksi jagung.

Sudirman, Penasihat Gabungan Pengusaha Makanan Ternak mengatakan, pihaknya sedang mencoba ekspansi ke luar Pulau Jawa.

"Dibutuhkan setidaknya 2 juta hingga 3 juta penduduk di daerah ekspansi, untuk memenuhi skala ekonomi satu pabrik pakan ternak," ujar Sudirman di Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Sudirman menambahkan, ada 2 pabrik pakan yang akan dibangun di Kalimantan Selatan tahun depan. Lima tahun ke depan, ada 3 - 4 pabrik baru akan dibangun di Sulawesi. Hingga kini, dari 91 pabrik pakan se-Indonesia, 66 pabrik di antaranya berada di Pulau Jawa.

Langkah pengusaha ini mereson pemerintah yang mengimbau pelaku industri peternakan membangun sentra di sekitar pusat produksi jagung untuk menekan biaya logistik.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, realisasi produksi jagung nasional hingga Agustus 2018 mencapai 22,23 juta ton. Sementara kebutuhan jagung untuk pakan ternak berkisar 600.000-800.000 ton per bulan atau 7,2 juta-9,6 juta ton setahun.

"Mayoritas jagung yang berlimpah itu di luar Pulau Jawa. Sudah saatnya sentra peternakan bergerak mendekati pusat produksi jagung di luar Pulau Jawa," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto, di Jakarta, Senin (1/10/2018) kemarin.

Sentra produksi jagung diharapkan terintegrasi dengan pabrik pakan ternak, dan peternakan. Menurut Gatot, integrasi sentra menunjang ketersediaan pasokan, keterjangkauan, dan tingkat kemampuan pembelian.

Pikirkan Kesejahteraan Petani

Pemerintah menyampaikan imbauan ini menyusul keluhan pelaku usaha pakan dan peternakan ayam akan kenaikan harga jagung, hingga merayu pemerintah kembali membuka keran impor jagung.

Menurut Gatot, saat ini harga jagung memang naik. Namun pada Juni-Juli lalu harga jagung turun, tetapi petani sabar menunggu.

"Sekarang saatnya petani merasakan harga yang baik namun masih tergolong wajar. Dan ini terjadi partially (sebagian). Tidak di semua wilayah begitu. Jangan hanya dengar pengusaha yang minta keran impor dibuka, karena ada juga pabrik yang bilang stok masih cukup untuk produksi hingga akhir tahun," ujar Gatot.

Anggota Komite II DPD RI Rahmiati Yahya juga menyampaikan keheranannya, dengan adanya keinginan sebagian kecil pengusaha agar Pemerintah kembali membuka keran impor jagung. Padahal, produksi jagung sedang melimpah. Dia khawatir, jika keinginan itu diikuti, impor tersebut jadi polemik baru seperti halnya beras.

"Kita kan sudah ekspor jagung. Kemarin saja, dari Gorontalo ekspor sebanyak 70.150 ton jagung. Masak mau kembali impor. Saya kira enggak perlu," kata Rahmi di Jakarta pekan lalu.

Senator asal Gorontalo ini meminta para pengusaha lebih memerhatikan kesejahteraan petani dalam negeri dengan mengoptimalkan penyerapan jagung lokal. Jika terjadi kekurangan pasokan, para pengusaha sebaiknya mengambil dari sentra jagung yang surplus. Bukan malah minta impor. [jin]

Komentar

x