Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 16:18 WIB

Harga Beras Stabil hingga Akhir Tahun, Mengapa?

Selasa, 2 Oktober 2018 | 18:46 WIB

Berita Terkait

Harga Beras Stabil hingga Akhir Tahun, Mengapa?
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah kompak memperkirakan harga beras akan terus stabil hingga akhir tahun ini. Apa yang membuat pemerintah begitu optimistis?

Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar menjelaskan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga Senin (1/10/2018) kemarin, masih 2,8 juta ton.

Angka ini mencakup stok dari serapan domestik sebanyak 1,5 juta ton. Bachtiar memastikan, stok yang nantinya disalurkan untuk operasi pasar (OP) tersebut akan mampu meredam potensi kenaikan harga beras sampai masa panen 2019.

"Harga beras sekarang masih aman, beberapa daerah masih sekitar Rp8.500/ kg untuk medium. Kami juga masih bisa menyerap gabah dari petani seharga Rp 4.070 per kg, dan serapannya kuat terutama di Sulawesi," tegas Bachtiar.

Di sisi lain, Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan padi dan Beras Soetarto Alimoeso mengatakan, harga Gabah Kering Panen (GKP) mengalami kenaikan wajar lantaran masih adanya pasokan di tingkat petani.

"Harga GKP masih aman. Belum terlalu mengkhawatirkan. Memang naik, karena beberapa pekan lalu masih Rp4.600 per kg, tetapi kenaikan itu disebabkan oleh mulai turunnya pasokan di beberapa tempat setelah masa panen usai," ujar Alimoeso yang pernah menjadi Dirut Bulog di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

BPS: Penurunan Harga Berlanjut

Kepala Badan Pusat Satistik (BPS) Suhariyanto juga meyakini harga beras di tingkat konsumen akan tetap terkendali.

"Kondisi panen tahun ini memang diperkirakan terganggu oleh faktor alam. Namun, kami melihat harga beras masih akan stabil, berikut pasokannya di pasar. Sebab, kabar terakhir yang kami terima stok cadangan beras pemerintah (CBP) Bulog sudah lebih tinggi dari tahun lalu," ujarnya Senin (1/10/2018).

Selain beras, tren penurunan harga-harga juga terjadi pada bahan makanan lain penyumbang deflasi. Setelah Agustus lalu deflasi 0,05 persen, pada September malah lebih landai menjadi 0,18 persen. Penyumbang utama deflasi berasal dari penurunan harga kelompok bahan makanan antara lain daging ayam, bawang merah, ikan segar, sayur-sayuran, telur ayam, hingga cabai rawit.

Deflasi kali ini, lanjut Suhariyanto, disebabkan keberhasilan pemerintah menekan harga pangan. Dan sejauh ini melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum memengaruhi inflasi.

"Upaya pemerintah mengendalikan harga pangan mampu menekan dampak lanjutan dari masalah dolar AS (USD)," katanya.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyampaikan, kondisi ini membuktikan hasil dari upaya Luas Tabah Tanam (LTT) yang dilakukan Kementan sejak 3 tahun lalu untuk meningkatkan produksi padi.

"Alhamdulillah evaluasi LTT September mencapai 1,5 juta hektare. Ini tertinggi dalam sejarah sejak Indonesia merdeka," kata Amran membuka Rapat Pimpinan (Rapim) bersama Kepala Dinas Pertanian Seluruh Indonesia di Auditorium Gedung Pusat Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2018).

Ia menjelaskan program LTT dilakukan dengan riset paceklik dalam 20 tahun terakhir. Kemudian memperbaiki embung, irigasi yang mengalami pendangkalan, bersama Kementerian PUPR melakukan perbaikan yang berhubungan dengan pengairan.

Hasil kerja keras 3 tahun lalu, LTT-nya naik 3 kali lipat. Kita lihat hasilnya dalam 2 tahun terakhir harga beras relatif stabil. Khususnya beras, kontribusinya 26 persen terhadap inflasi," tutup Amran. [jin]

Komentar

x