Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 14:41 WIB

Rupiah Jeblok, Anak Buah Sri Mulyani Takut Bicara

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 4 Oktober 2018 | 18:18 WIB

Berita Terkait

Rupiah Jeblok, Anak Buah Sri Mulyani Takut Bicara
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan hingga melewati level psikologis baru Rp15.000 per US$, Selasa (1/10/2018). Angka ini terlemah dalam sejarah pemerintahan Joko Widodo.

Hari ini (Kamis, 4/10/2018), tren pelemahan semakin tak terbendung. Di kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp15.133 per US$. Melemah 0,3% ketimbang perdagangan sehari sebelumnya.

Ditanya soal ini, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman ogah bicara. Selanjutnya Lucky menyarankan wartawan untuk menanyakan masalah ini kepada bosnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. "Untuk itu (rupiah) saya no comment dulu, nanti Bu menteri akan bicara," kata Luky saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Ketika kembali ditanyakan soal kondisi market yang fluktuatif, lagi-lagi Luky tak mau menjawabnya.
"Saya no coment Bu menteri yang mau bicara langsung. Please, karena ibu mau bicara saya enggak mau mendahului," katanya.

"Besok rencananya Bu menteri akan bicara, saya enggak enak kalau bicara, ga sopan," tambah Luky.

Sebelumnya Ekonom Institute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan saat ini rupiah membutuhkan 'obat kuat' untuk menstimulus pergerakan nilai tukar yang lebih positif.

Salah satunya lewat 'obat kuat' suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate yang terus dikerek naik.

"Suku bunga acuan BI sebenarnya jadi penentu dari bunga yang ditawarkan surat utang pemerintah," kata Bhima kepada INILAHCOM, Kamis (4/10/2018).

Menurutnya BI semestinya lebih responsif dalam menaikkan suku bunga acuan, untuk mencegah pelemahan rupiah. Untuk itu, BI harus berani mendahului dengan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi, bukan menunggu Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menaikkan bunga acuan, Federal Fund Rate (FFR), lebih dahulu.

Dia bilang saat ini, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun mencapai 8,22%, sedangkan yield US-Treasury menyentuh 3,05%. Artinya, yield spread SBN 10 tahun dan Treasury tenor yang sama sebesar 5,17%.

"Kalau hanya 5,17% ya mending investor masuk ke surat utang AS dari pada beli SBN Indonesia. Idealnya yield spread diatas 7% untuk kompensasi resiko investor memegang surat utang Indonesia. Dengan begitu artinya ada space sampai 200 bps kenaikan bunga acuan, tapi resikonya ekonomi bisa macet," katanya.

"Jadi perlu dicari opsi lain selain utak atik bunga. Investor yang melihat fundamental ekonomi biasanya lebih perhatian ke kebijakan jangka menengah, defisit transaksi berjalan dan stabilitas regulasi jelang pemilu. Tiga faktor itu bisa lebih utama ketimbang mengejar bunga tinggi. Karena setinggi apapun bunga efeknya belum tentu ampuh menahan penguatan dolar hingga 2020," tambah Bhima. [ipe]


Komentar

x