Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 13:55 WIB

Pertemuan IMF-WB, Heroisme yang Antiklimaks

Rabu, 10 Oktober 2018 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Pertemuan IMF-WB, Heroisme yang Antiklimaks
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - "Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF" demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada Rabu (22/4/2015), pukul 12:46 WIB. Sungguh heroik yang mengundang decak kagum.

Sebelumnya, hanya selisih sekitar enam menit, pada 22/04/2015, pukul 12:40 WIB, laman Kompas.com menulis judul berita "Jokowi: IMF, Bank Dunia, dan ADB Tak Memberi Solusi"

Selain kedua media daring tersebut, masih banyak media lain yang membuat judul senada. Pelbagai judul gagah tadi bersumber dari substansi pidato Presiden Jokowi saat membuka Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta Convention Center (JCC) di Senayan, Jakarta, Rabu (22/4/2015).

Bagian pidato Jokowi yang dianggap 'seksi' oleh banyak kru media, antara lain berbunyi begini: "Asia-Afrika harus bisa lepas dari ketergantungan pada institusi keuangan global. Pandangan yang mengatakan persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF (International Monetary Fund), dan ADB (Asian Development Bank) adalah pandangan usang yang perlu dibuang."

Banyak kalangan menganggap ini adalah pidato terbaik Jokowi selama menjadi presiden. Belum pernah sebelumnya atau sesudah, Presiden Jokowi berpidato setara apalagi lebih baik daripada pidato tersebut.

Jujur saja, saya sendiri menilai, sejak pidato heroik ini, saatnya Indonesia melepaskan diri dari cengkeraman neolib yang ganas dan telengas.

Tapi itu cerita dulu, pada 22 April 2015. Karena faktanya, pidato adalah satu hal dan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi adalah hal lain. Keduanya bisa saja berbeda, bersebarangan atau bahkan bertabrakan total. Buktinya, setelah pidato tadi, toh menteri-menteri ekonomi Jokowi masih dan terus saja menerbitkan aneka kebijakan yang sarat dengan aroma neoliberalisme.

Utang-utang baru terus dibuat hingga ribuan triliun rupiah; impor produk pangan ugal-ugalan membuat petani padi, tebu, dan garam menderita; pajak digenjot membabi-buta; subsidi belanja sosial dikurangi bahkan dicabut; harga-harga dikerek ke langit, dan lain-lainnya, dan seterusnya.

Sungguh, saat membuka KAA pada empat tahun silam, Jokowi begitu heroik. Ada semangat kebebasan dan pembebasan dalam tiap kalimatnya. Tidak mengherankan, Presiden diganjar standing ovation yang meriah dan berkepanjangan. Sayang, pidato heroik itu kini antiklimaks. Lunglai, tak berdaya ditelikung dogma neolib dan mental inlander.

Anggaran Super Jumbo
Pada Selasa (8/10/2018), bisa disebut sebagai antiklimaks dari pidato heroik dari sang presiden asal Solo, Jawa Tengah ini. Di Bali, sampai 14 Oktober 2018, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tahunan bersama IMF dan WB.

Dan, untuk itu, negeri yang baru saja terkoyak bencana susul-menyusul ini, merasa perlu merogoh kocek hingga Rp855,5 miliar. Jumlah itu hanyalah anggaran patungan yang dikeluarkan Kementerian Keuangan (APBN) dan Bank Indonesia. Masing-masing merogoh kocek Rp672,59 miliar dan Rp137 miliar.

Oya, iuran dari Bank Indonesia sudah turun dibandingkan rencana semula yang Rp243 miliar. Ketua Satuan Tugas Bank Indonesia untuk Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia, Peter Jacobs, menyebut total biaya tersebut di luar anggaran infrastruktur untuk mendukung pelaksanaan acara.

Peter benar. Pasalnya, Kementerian Pariwisata mengalokasikan anggaran Rp7,7 miliar sebagai tambahan. Sedangkan Kementerian Perhubungan sebesar Rp17 miliar. Total jenderal anggarannya mencapai Rp944,8 miliar.

Tapi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pernah menyebut Rp1,1 triliun. Itu hanya untuk biaya operasional. Belum termasuk untuk keperluan lain, semisal uang untuk memperbaiki dan membuat infrastruktur.

Masih ada pengeluaran lainnya, lho. Yaitu untuk mempercantik tujuh destinasi wisata yang akan ditawarkan kepada para delegasi. Menpar Arief Yahya menyebut angkanya mencapai Rp5,4 triliun.

Pemerintah, tentu saja, telah menyiapkan seabreg alasan pembenaran bagi digelontorkannya dana dalam jumlah superjumbo untuk membiayai IMF-WB yang 'kongkow-kongkow' di Bali.

Mulai dari citra dan reputasi bangsa besar yang mampu menghelat hajatan internasional, sampai dampak ekonominya bagi negeri yang terperangkap utang ribuan triliun ini. Biar tekor asal sohor.

Sales Promotion Girl IMF
Sri Mulyani menjadi orang yang berdiri di garda paling depan dalam urusan bela-membela IMF-World Bank. Beberapa bulan sebelum perhelatan berlangsung, Kementerian Keuangan yang dikomandoinya secara khusus merilis video pendek uraian Menkeu Sri Mulyani yang menyanjung-nyanjung peran penting IMF dalam perekonomian internasional.
Dia juga memaparkan manfaat joint annual meeting kedua lembaga almamaternya di Bali, pada Oktober ini. Singkat kata, di video itu Sri 'jualan' abis.

Politisi Golkar yang kini menjadi Ketua DPR Bambang Susatyo pernah menjulukinya sebagai Sales Promotion Girls (SPG) IMF yang andal. Kritik teramat pedas ini dilayangkan Bamsoet pada 24 Mei 2011. Kala itu, nama Sri Mulyani santer disebut bakal menggantikan Direktur IMF Straus-Khan.

"Mungkin, teman-temannya (Sri Mulyani) di IMF menjagokan SMI karena dia dikenal sebagai SPG IMF yang andal. Jadi, wajarlah kalau SMI masuk nominasi," sindir Bambang seraya tetap mempertanyakan peran Sri Mulyani di bank Century, seperti bisa dibaca pada laman http://www.tribunnews.com/nasional/2011/05/24/bambang-soesatyo-sri-mulyani-dikenal-spg-handal-imf.

"Namun, kita tetap meminta dua jawaban dari SMI. Pertama, tentang perannya dalam skandal Bank Century. Kedua, dia juga harus mengklarifikasi perannya sebagai SPG bagi IMF, terutama dalam memroses persetujuan pinjaman bagi Indonesia," imbuhnya.

Sikap Sri Mulyani yang getol membela IMF-WB, tentu bukan hal yang mengherankan. Dia selama ini memang dikenal sebagai pejuang paling neolib nan gigih di lingkaran utama kekuasaan. Bahkan melampaui prestasi para senior yang pernah menjadi mentornya, seperti Widjojo, Emil Salim, dan Boediono.

Terbukti rekam jejaknya pernah menjadi petinggi IMF dan Bank Dunia. Suatu posisi bergengsi yang belum pernah tergapai para mentornya tadi.

Selain Sri, sejumlah menteri lain juga sibuk menepis kritikan terkait penyelenggaraan sidang tahunan IMF-WB. Yang paling semangat adalah Ketua Panitia, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Pensiunan jenderal ini sempat meradang ketika ditanya soal uang negara untuk acara IMF-WB di saat bencana bertubi-tubi melanda negeri.

Pastinya, semua menteri dan para petinggi menyuarakan koor yang sama, yaitu hajatan bergengsi tersebut bakal mendongkrak pariwisata dan investasi. Dokumen Indonesia sebagai Tuan Rumah Penyelenggaraan Annual Meetings IMF-World Bank 2018, menyebut beberapa keuntungan Indonesia sebagai tuan rumah: antara lain, promosi pencapaian Indonesia dalam menerapkan reformasi dan demokrasi; promosi ketahanan nasional dan kemajuan ekonomi Indonesia pasca krisis Asia; dan menunjukkan kepemimpinan dan komitmen Indonesia dalam pembahasan isu global.

Rangkaian klaim inilah yang selalu dijadikan sweetener dari pertemuan tahunan ini. Benarkah klaim itu? Siapa pun pasti tahu, ketiganya sulit dikuantifikasi. Kalau sudah begini, klaim memang bisa dianggap menjadi senjata pamungkas untuk menghalau para pengritik.

Tapi sudahlah, toh kritik dan masukan di bidang ekonomi selama ini bak anjing menggonggong kafilah berlalu. Terus saja diabaikan. Para pejabat publik di bidang ekonomi kita telanjur merasa paling mengerti dan paham soal-soal ekonomi. Terlebih lagi, garis neolib yang mereka anut memang melarang para pengabdinya mendengarkan nurani dan berpihak kepada rakyatnya sendiri. Pakem yang harus dituruti, layani kepentingan majikan yang direpresentasikan lewat IMF, WB, dan IDB.

Padahal, sejatinya perkara ekonomi terlalu penting jika hanya diserahkan bulat-bulat kepada segelintir orang belaka. Terlebih lagi jika sejarah justru dengan fasih bercerita, bahwa resep neolib yang mati-matian diterapkan tidak pernah membuat sejahtera rakyat; bukan hanya di Idonesia tapi juga di seantero penjuru dunia yang menerapkannya.

Sebagai rakyat kembali kita cuma bisa mengelus dada. Pasrah? Tentu tidak boleh. Kita lawan dengan sebait doa; semoga Allah Yang Maha Kuasa segera memberi negeri ini pemimpin yang menyayangi dan disayangi rakyatnya, pemimpin yang bekerja ekstra keras untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya, pemimpin yang tidak tunduk kepada kekuatan dan kepentingan asing-aseng. Aamiin [ipe]

Penulis: Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)


Komentar

x