Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 13:48 WIB

Pertemuan IMF-World Bank

BI Klaim Sukses Jaga Inflasi 2018 di Level 3,4%

Rabu, 10 Oktober 2018 | 15:16 WIB

Berita Terkait

BI Klaim Sukses Jaga Inflasi 2018 di Level 3,4%
Gubernur BI, Perry Warjiyo - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Nusa Dua - Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi 2018 mampu ditekan di level 3,4% secara tahunan alias year on year (yoy).

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan itu di hadapan para pimpinan Bank Sentral dalam acara Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

Dia bilang, Indonesia terus bekerja keras dalam mengendalikan inflasi, sesuai APBN 2018 sebesar 2,5%-4,5%. "Inflasi 3,4 persen di tahun ini dan 3,6 persen di tahun depan," ujar Perry.

Ia mengatakan, proyeksi inflasi tahun ini berada di rentang bawah sasaran inflasi. BI sendiri sempat merilis proyeksi inflasi 2018 bakal lebih rendah ketimbang 2017 yang mencapai 3,61% (yoy).

Menurut bank sentral merah putih ini, penurunan laju inflasi bisa sesuai rencana lantaran adanya sinergi kebijakan, antara otoritas dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, terutama harga komoditas yang kerap bergejolak (volatile foods).

Perry mengatakan capaian pada beberapa tahun terakhir ini dapat menjadi modal penting untuk menentukan capaian inflasi di akhir 2018 dan tahun-tahun depan.

Pada 2015, laju inflasi tercatat di angka 3,35% (yoy), 2016 sebesar 3,02% (yoy), dan 2017 di 3,61% (yoy). Dengan inflasi yang cukup terjaga rendah, bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate.

Namun, kebijakan menaikkan suku harus diambil karena normalisasi suku bunga di negara maju harus direspon dengan kebijakan yang sama. "Indonesia yang pertama menaikkan suku bunganya, bukan karena kondisi makroekonominya, tetapi karena global ekonomi yang memberikan dampak terhadap negara berkembang terutama terkait aliran modal," tegas Perry.

Sejak Mei hingga September 2018, BI sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin menjadi 5,75%.

Perry menuturkan kenaikan suku bunga acuan itu diambil untuk tetap menjaga aset-aset di instrumen keuangan domestik tetap menarik, sekaligus menurunkan defisit transaksi berjalan Indonesia yang pada kuartal II-2018 mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). [tar]

Komentar

x