Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 20:43 WIB

Gagal Bayar Jiwasraya

Mantan Bos Jamsostek Sebut 'Dosa' Manajemen Lama

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 10:11 WIB

Berita Terkait

Mantan Bos Jamsostek Sebut 'Dosa' Manajemen Lama
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Industri asuransi kembali tergoncang dengan kabar gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya. Akankah mengikuti jejak PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life), PT Bumi Asih Jaya atau PT Asuransi Jiwa Nusantara yang dicabut izinnya?

Pengamat asuransi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Risiko & Asuransi (STIMRA) Jakarta Hotbonar Sinaga menilai, masalah yang menimpa Jiwasraya lebih kepada kesalahan manajemen periode sebelumnya. Khususnya pada pengelolaan investasi. "Ada miss-investasi dari direksi terdahulu," kata Hotbonar, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Mantan Dirut Jamsostek ini menduga, manajemen lama tidak menempatkan alokasi dana investasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan likuiditas. Di saat kondisi ekonomi global bergerak tak menentu, perusahaan banyak bermain di instrumen ekuitas. Sehingga pada waktu pembayaran klaim, tak tersedia dana yang mencukupi.

Ketua Komite Asuransi dan Dana Pensiun Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Herris Simandjuntak berpendapat sama. Manajemen sebelumnya terlalu agresif dalam menempatkan dana kelolaan untuk mengincar imbal yang tinggi.

Manajemen lama, kata dia, terlalu optimis bisa mendapat return investasi yang tinggi. Makanya mereka berani menawarkan produk saving plan dengan janji return yang tinggi pula. "Padahal yang namanya pasar kan naik-turun, tapi mereka terlalu berani," ungkapnya.

Bila melihat laporan keuangan Jiwasraya tahun 2017, perusahaan menempatkan nyaris 61% aset investasinya di instrumen berbasis ekuitas yakni saham dan reksadana.

Tapi meski sedang dililit masalah likuidias, Herris menilai kondisinya tak akan bertambah serius. Pasalnya perusahaan asuransi jiwa pelat merah tersebut masih memiliki aset yang besar. Selain itu ia yakin pemerintah sebagai pemegang saham Jiwasraya tak akan tinggal diam. "Tapi harus secepatnya bergerak karena ini isu sensitif yang bisa menyebabkan kekhawatiran masyarakat," kata Herris. [tar]

Komentar

x