Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 17:02 WIB

Perkirakan Kurs Rupiah 2019 dari BI Berubah Lagi

Selasa, 16 Oktober 2018 | 00:09 WIB

Berita Terkait

Perkirakan Kurs Rupiah 2019 dari BI Berubah Lagi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah sepanjang 2019 di kisaran Rp14.800 hingga Rp15.200 per US$. Direvisi dari sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo saat rapat kerja membahas postur sementara RAPBN 2019 antara Badan Anggaran (Banggar) DPR dengan pemerintah dan BI di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Dalam rapat kerja pada September 2018, BI memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2019 berada di rentang Rp14.300-Rp14.700 per US$. "Kami perkirakan nilai tukar rupiah pada 2019 akan berkisar Rp14.800 hingga Rp15.200 per dolar AS," kata Perry.

Perry menuturkan, sejak awal September lalu hingga kini, dinamika global dan di dalam negeri begitu cepat.

Pada awal September, pelemahan rupiah dipengaruhi kondisi krisis di sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Argentina, sehingga mempengaruhi arus modal asing ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Selain itu, ketegangan perang dagang Amerika Serikat dan China, serta sejumlah negara, memberikan tekanan bagi ekonomi Indonesia. "Kurs pada titik sekarang ini Rp15.220 per dolar AS. Pergerakan ke depan, ketidakpastian ekonomi global akan berlanjut, tapi ke arah yang lebih positif dibandingkan saat ini," ujar Perry.

Perry menjelaskan, arah kebijakan moneter di negara maju masih akan tetap ketat namun gradual. Pada 2019, suku bunga acuan The Fed (Fed Fund Rate) masih akan naik dua sampai tiga kali, dibandingkan tahun ini yang diperkirakan akan naik sebanyak empat kali.

"Tahun depan Fed Fund Rate masih naik tapi tingkat kenaikan lebih kecil. Eropa pada paruh kedua tahun depan ada kemungkinan normalisasi kebijakan moneter sehingga akan mengimbangi kekuatan dolar," ujar Perry.

Selain itu, terkait perang dagang, ia menyebutkan ada keinginan dari negara-negara di dunia untuk menggunakan pendekatan yang lebih konstruktif bagi perdagangan terbuka, adil, dan menguntungkan baik bagi negara yang menjalin perdagangan dan juga secara global.

Selain itu, BI dan pemerintah, serta pihak-pihak terkait, akan terus melakukan koordinasi untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dan mendorong masuknya modal asing. [tar]

Komentar

x