Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 16:56 WIB

Gegara BI, Sri Mulyani Minta Revisi Kurs Rupiah

Selasa, 16 Oktober 2018 | 04:29 WIB

Berita Terkait

Gegara BI, Sri Mulyani Minta Revisi Kurs Rupiah
Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah mengusulkan perubahan asumsi nilai tukar (kurs) rupiah dalam RAPBN 2019 menjadi Rp15.000 per US$, sebelumnya Rp14.500 per US$.

Dalam hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengajukan perubahan asumsi kurs rupiah seiring estimasi Bank Indonesia (BI) dari sebelumnya Rp14.300-Rp14.700 per US$ menjadi Rp14.800-Rp15.200 per US$.

"Kami usulkan untuk memakai nilai tengah Rp15.000 per USD untuk asumsi nilai tukar di 2019," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat kerja membahas postur sementara RAPBN 2019 antara Badan Anggaran DPR RI dengan pemerintah dan Bank Indonesia di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Selain nilai tukar Rupiah, asumsi makro dalam RAPBN 2019 sama seperti yang diajukan sebelumnya antara lain pertumbuhan ekonomi 5,3%, inflasi 3,5%, dan tingkat suku bunga SPN 3 bulan 5,3%.

Selanjutnya, harga minyak mentah dipatok US$70 per barel, lifting minyak 775 ribu barel per hari, lifting gas 1.250 ribu barel per hari, dan cost recovery US$10,22 miliar.

Untuk postur RAPBN 2019, asumsi kurs Rp15.000 per US$, pendapatan negara Rp2.165,1 triliun dan belanja negara Rp2.462,3 triliun.

Belanja negara secara lebih rinci yaitu belanja pemerintah pusat naik menjadi Rp1.635 triliun dari usulan sebelumnya Rp2.439,7 triliun, belanja Kementerian/Lembaga Rp840,5 triliun, dan belanja non K/L Rp794 triliun.

Belanja non K/L sendiri terbagi atas pembayaran bunga utang Rp275,9 triliun, dan subsidi energi naik menjadi Rp164,1 triliun dari usulan sebelumnya Rp156,5 triliun.

Sedangkan keseimbangan primer sebesar Rp21,3 triliun dan defisit APBN 2019 dibatasi Rp297,2 triliun, atau 1,84% dari Produk Domestik Bruto (PDB). [tar]

Komentar

x