Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 05:37 WIB

Ini Bedanya Kebijakan Ekonomi Jaman Jokowi

Oleh : Wahid Ma'ruf | Selasa, 23 Oktober 2018 | 14:51 WIB

Berita Terkait

Ini Bedanya Kebijakan Ekonomi Jaman Jokowi
Menteri Koordinator bidang Perkonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintahan mengklaim dengan membangun berbagai infrastruktur mampu menyelesaikan banyak persoalan sehingga akan meningkatkan kemampuan SDM dan menggerakkan ekonomi nasional.

Sebab pembangunan di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) seimbang mengerjakan supply side maupun demand side. "Anda tahu bedanya itu dimana? Kalau demand side itu yang diutak-atik itu semua moneter dan fiskal saja. Tapi kalau supply side itu membangun infrastruktur, membangun SDM, persoalan pertanahan," kata Menteri Koordinator bidang Perkonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution pada konferensi pers Laporan 4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Membangun Manusia Indonesia Menuju Negara Maju, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Menurut Menko Perekonomian, kalau supply side dan demand side itu seimbang maka kemajuan ekonomi suatu bangsa pada akhirnya terwujud dalam transformasi struktural, transformasi ekonomi.

Ia menjelaskan, secara klasik, misalnya orang pindah dari sektor tradisional ke sektor formal yang terjadi selalu banyak masalah, karena supply sidenya kurang diurusi, infrastrukturnya kurang diurusi, SDM-nya kurang diurusi dan sebagainya. Namun begitu dia seimbang, menurut Darmin, maka kita ada pada 1 titik siap melakukan transformasi ekonomi tanpa harus memindahkan orang dari pertanian ke industri semuanya.

"Kita bisa mentransformasi kegiatan pertanian itu menjadi lebih baik yang tadinya subsistem lebih komersial, karena infrastruktur ada sehingga mudah dipasarkan ke kota-kota tanpa harus pindah," terang Darmin seperti mengutip setkab.go.id.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, dari segi makro, kita sehat dan fundamentalnya cukup kuat meskipun ada tantangannya.

"Pertumbuhan ekonomi kita dari tahun 2014, tahun 2015 terutama sampai 2017 itu meningkat tapi memang pelan-pelan," ungkap Darmin.

Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi kita saat ini sudah 5,17 persen di semester I/2018 dari yang tadinya 5,07-5,03 atau 4,88.

"Jadi secara ini naik dalam situasi ekonomi dunia yang sedang terjadi gangguan dan gejolak. Jadi itu adalah satu prestasi yang mau tidak mau harus kita akui membaik pelan-pelan dalam situasi ekonomi dunia yang kurang baik," sambung Darmin.

Menko Perekonomian juga menunjukkan, bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia saat ini adalah posisi yang terbaik yang kita alami sejak beberapa puluh tahun terakhir, yaitu 9,82%, hanya satu digit. Sedangkan rasio gini juga membaik sehingga beberapa tahun terakhir, sekitar 7-8 tahun terakhir ini adalah posisi yang terbaik dengan rasio gini 0,389.

Tingkat pengangguran, lanjut Menko Perekonomian, juga berada di posisi yang baik. Dalam beberapa tahun terakhir terlihat secara konsisten, yaitu 5,13 persen. Angka-angka itu ditambah dengan tentu saja tingkat inflasi yang bisa dikendalikan.

"Jadi stabil, jauh lebih stabil karena angkanya bergerak pada angka sekitar 3,5 persen. Itu kita sudah mulai mendekati kinerja negara-negara yang mampu mewujudkan inflasi rendah di sekitar kita," terang Darmin.

Menko Perekonomian juga menyampaikan kinerja fiskalnya jelas makin menguat, makin solid. Diakuinya, sempat beberapa 2-3 tahun yang lalu ada pelemahan fiskal tapi sekarang sudah solid. Sementara moneter juga baik, terutama sektor riil sebenarnya, kegiatan ekonomi sektor riil solid.

Konferensi pers tersebut dihadiri oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menperin Airlangga Hartarto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Kepala BEKRAF Triawan Munaf.

Komentar

x