Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 19 November 2018 | 09:00 WIB

EHP Operasikan Pabrik Kelapa Sawit Anyar di Papua

Senin, 29 Oktober 2018 | 18:50 WIB

Berita Terkait

EHP Operasikan Pabrik Kelapa Sawit Anyar di Papua
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Eagle High Plantations Tbk (EHP) mulai mengoperasikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) anyar di Kabupaten Keerom, Papua.

PKS yang dioperasikan melalui anak usaha EHP, yaitu PT Tandan Sawita Papua (TSP), ini telah berhasil melewati uji coba operasional pada awal bulan lalu.

Dengan beroperasinya PKS baru ini, EHP bisa berhemat dalam pengelolaan dan pengolahan hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan kelapa sawit PT TSP. "Pengoperasian PKS ini sebagai rangkaian perencanaan Perseroan guna mengoptimalkan nilai tambah dari hasil panen TBS di areal TSP yang sebagian sudah memasuki usia tanaman menghasilkan," kata Henderi Djunaidi, Chief Financial Officer EHP, di Jakarta, Senin (29/10/2018).

PKS yang dibangun dengan total dana investasi sebesar Rp260 miliar ini, memiliki kapasitas sebesar 60 ton per jam yang kelak bisa diperbesar menjadi 90 ton per jam. Dengan beroperasinya PKS ini, EHP telah memiliki sembilan PKS dengan total kapasitas sebesar 2,85juta ton per jam.

Diharapkan, kata Henderi, keberadaan PKS baru ini mampu menambah penyerapan tenaga kerja di Papua, khususnya di wilayah Kabupaten Keerom. "Hingga akhir September ini, Perseroan telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi 100 calon pimpinan dalam Management Development Program dan pelatihan pengembangan SDM bagi 300 karyawan di level Operational Leader, katanya.

Pada akhir tahun ini, Perseroan berencana akan membangun satu unit PKS dengan kapasitas 60 ton per jam dan bulking station dengan kapasitas simpan sebesar 4.000 ton. Pabrik yang akan dibangun di Kalimantan Timur ini sebagai upaya Perseroan guna mengantisipasi peningkatan produksi perkebunan kelapa sawit di wilayah ini, yang masuk di usia prima pada 2020.

Terkait kinerja, perseroan berhasil mengerek produksi TBS sebesar 1,295 juta ton, atau naik 32% dibanding produksi pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan produksi CPO sebesar 277 ribu ton. Atau meningkat 26% dibanding tahun lalu.

Kendati volume produksi TBS dan CPO naik cukup signifikan, Perseroan belum optimal mencatatkan total pendapatan sebesar Rp2,36 triliun atau hanya meningkat 6% dibanding dengan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu.

Hal ini disebabkan penurunan harga cukup tajam di kuartal ketiga ini, dibandingkan harga di kuartal kedua lalu. Selain itu, pendapatan yang belum optimal ini juga disebabkan adanya penundaan pengiriman penjualan CPO. Hal ini teriihat pada tingginya persediaan barang jadi senilai Rp360 miliar.

Diharapkan pengiriman bisa kembali lancar pada kuartal keempat. Situasi makin kurang baik bagi Perseroan saat rupiah makin melemah terhadap dolar AS, sejak awal tahun hingga akhir September 2018 ini.

Akibatnya Perseroan mencatatkan rugi kurs sebesar Rp165 miliar. Padahal Perseroan hanya memiliki 20% dari hutang yang berdenominasi dolar Amerika Serikat. Tak ayal, pada kuartal ketiga ini, Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp282 miliar atau meningkat 31% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Diharapkan periode kedepan harga CPO dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa membaik dan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Perseroan seiiring dengan tren kenaikan volume produksi TBS dan CPO ini," pungkas Henderi. [tar]

Komentar

x