Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 16:59 WIB

BBM Satu Harga

Tadinya Rp100 Rb Hanya Beli 1 Liter

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 30 Oktober 2018 | 13:57 WIB

Berita Terkait

Tadinya Rp100 Rb Hanya Beli 1 Liter
Project Coordinator BBM Satu Harga PT Pertamina (Persero) Zibali Hisbul - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Program pemerintah untuk menjalankan salah satu butir Pancasila yakni sila ke-5 yang berbunyi 'Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia' benar-benar tercermin dari program BBM Satu Harga.

Program yang mulai dilakukan tahun 2017 tersebut ternyata banyak menghasilkan cerita-cerita yang boleh dibilang menyentuh hati di belakangnya.

Project Coordinator BBM Satu Harga PT Pertamina (Persero), Zibali Hisbul mengungkapkan bahwa kebijakan ini benar-benar membawa perubahan. Khususnya perubahan untuk daerah yang benar-benar tertinggal, seperti Papua dan wilayah perbatasan.

"Sebelum ada program ini, harga BBM di Papua itu mencapai Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per liter, kalau lagi cuacanya nggak bagus harganya bisa Rp150 ribu per liter," kata Zibali dalam workshop di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Pria yang pernah bertugas di Papua tersebut lantas bercerita bahwa ia pernah mendengarkan sebuah cerita dari seorang ibu di Papua. Ibu tersebut berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer untuk mendapatkan BBM dengan harga yang cukup mahal.

"Maaf yah, disana itu untuk pakai baju saja mereka tidak, buat ini itu saja susah, ditambah lagi dengan harga BBM yang mahal. Sudah kehidupannya sulit jadi tambah sulit," ceritanya.

Barulah setelah adanya program BBM satu harga ini, masyarakat Papua dan wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) pada umumnya, bisa bernafas lega lantaran adanya perubahan besar dalam sendi-sendi kehidupan ekonomi sosial mereka.

"Yang tadinya Rp100 ribu hanya bisa beli 1 liter BBM, sekarang uang sisa beli BBM bisa digunakan yang lain, seperti sayuran bahkan ada yang membeli BBM untuk penerangan agar anaknya bisa belajar di malam hari," katanya.

Tak hanya itu, kata dia, kebijakan ini mampu menurunkan biaya transportasi dan logistik lokal. Contoh nyata di lapangan adalah tarif ojek yang turun sangat signifikan di wilayah 3T seperti di Papua.

"Ojek di Papua itu, dulu sebelum satu harga bisa Rp150-Rp200 ribu, sekarang hanya Rp20-25 ribu. Sangat signifikan," katanya.

Ia pun yakin, efek ekonomi sosial yang ditimbulkan dari BBM satu harga juga mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia. Sebab, dengan biaya transportasi turun, harga barang turun yang kemudian membuat daya beli masyarakat meningkat dan ekonomi tumbuh lebih cepat.

"Manfaatnya tentu dengan menurunkan biaya transportasi lokal, harga barang juga otomatis turun, sehingga daya beli meningkat dan ekonomi naik," ujar Zibali. [hid]

Komentar

x