Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 20:49 WIB

Konferensi Sawit Indonesia

Hadapi Kampanye Hitam LSM, Begini Saran Jokowi

Selasa, 30 Oktober 2018 | 15:14 WIB

Berita Terkait

Hadapi Kampanye Hitam LSM, Begini Saran Jokowi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Nusa Dua - Saat membuka 14th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2019 Price Outlook di Sofitel, Nusa Dua Beach Resort, Bali, Senin (29/10/2018), Presiden Joko Widodo memberikan lima catatan. Apa saja ya?

Lima hal yang menjadi concern Jokowi terkait sawit Indonesia, pertama kemajuan teknologi harus dimaksimalkan untuk praktik keberlanjutan industri sawit. Di mana, biji kelapa sawit harus terus dikembangkan dengan teknologi supaya lebih tahan hama dan produktivitas tinggi.

"Ini penting supaya yang namanya sawit tidak terus dikritik dari LSM, kiri-kanan, atas-bawah, depan semuanya mengkritik ini. Betul-betul soal keberlanjutan lingkungan itu diperhatikan," kata Jokowi.

Kedua, mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini mendorong peremajaan kebun sawit (replanting) dipercepat. Jangan sampai ada aturan yang mempersulit petani sawit yang berniat melakukan replanting.

"Cek prosedurnya betul. Kalau terlalu banyak coret semua, satu saja cukup prosedur itu. Yang penting sampai ke petani, yang penting juga peremajaan itu bisa segera dilaksanakan. Karena kita ingin dengan peremajaan sawit ini kesejahteraan petani kebun sawit rakyat bisa kita tingkatkan," tegasnya.

Ketiga, Jokowi mendambakan terjadinya peningkatan ekspor. Hingga saat ini, ekspor kelapa sawit berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia dalam memperoleh devisa.

"Tadi disampaikan oleh Pak Ketua, sekarang sudah mencapai USD21 miliar. Itu kalau dirupiahkan berapa triliun? 300-an triliun lebih. Ini angka yang sangat besar," lanjutnya.

Masih terkait ekspor, Jokowi memandang pentingnya pengembangan pasar untuk ekspor sawit ke mancanegara. Diharapkan, produsen sawit melirik pasar-pasar nontradisional, seperti Pakistan, Bangladesh, Iran, dan Afrika, bukan hanya Uni Eropa dan India.

"Waktu saya (bertemu) Perdana Menteri Li Keqiang dari Tiongkok, saat itu saya minta tambahan ekspor kelapa sawit kita untuk ke Tiongkok. Langsung saat itu ditambah 500 ribu ton. Tapi masa presiden jualan terus? Perusahaan-perusahaan _dong muter,_ jualan biar stoknya yang ada di dalam negeri tidak banyak. Saya tahu stok sekarang ini banyak sehingga harga sedikit turun," tuturnya.

Keempat, lanjutnya, pemain sawit perlu memerhatikan hilirisasi industri sawit. Penting agar ekspor kelapa sawit ini bisa berupa barang jadi yang dikemas dengan baik. "Hilirisasi industri kelapa sawit ini betul-betul (diperhatikan), jangan jualannya hanya CPO terus," ucapnya.

Terakhir, papar capres pejawat bernomor urut 01 ini, implementasi pemakaian biodiesel 20% alias B20, dipercepat dan dilaksanakan secara maksimal. Aturan ini memang sudah diputuskan tahun lalu namun pelaksanaannya masih belum seperti harapan alias tersendat-sendat. [tar]

Komentar

x