Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 20:42 WIB

Konferensi IPOC 2018

Kebijakan B20 Era Jokowi Dongkrak Harga CPO

Rabu, 31 Oktober 2018 | 15:50 WIB

Berita Terkait

Kebijakan B20 Era Jokowi Dongkrak Harga CPO
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Nusa Dua - Implementasi program mandatori biodiesel 20% atau B20 yang dicanangkan Presiden Joko Widodo kabar baik bagi pelaku industri sawit di tanah air. Harga minyak sawit dunia bakal naik.

"Kami setuju sekali dengan apa yang disampaikan Bapak Presiden Jokowi bahwa program B20 akan meningkatkan penyerapan minyak sawit di pasar domestik," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono di Nusa Dua, Bali, Rabu (30/10/2018).

Joko menyampaikan hal ini menanggapi arahan Presiden Jokowi saat membuka Konferensi Minyak Sawit Internasional IPOC 2018 & 2019 Price Outlook di Nusa Dua Bali, Senin (29/10/2018).

Kala itu, Jokowi menyebutkan ada lima hal yang harus dilakukan dalam pengembangan industri minyak sawit nasional. Salah satunya adalah Presiden Jokowi ingin agar implementasi pemakaian biodiesel B20 terus dipercepat dan dilaksanakan secara maksimal. Ia mengakui meski sudah diputuskan dari tahun kemarin, pelaksanaannya masih belum berjalan secepat yang diharapkan.

"Ini saya kejar terus agar penggunaannya bisa 100 persen, agar stok minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang ada itu bisa diserap kita sendiri. Ngapain kita impor minyak kalau dari kelapa sawit kita bisa gunakan campuran biodiesel?" tegas Jokowi.

Jokowi memaparkan, jika stok minyak kelapa sawit yang ada digunakan untuk campuran bahan bakar biodiesel B20, maka otomatis akan mendongkrak harga dari kelapa sawit itu sendiri.

"Ini trik dagang seperti ini kan memang harus kita lakukan. Kalau tidak ditekan terus. Ditekan, ya kita gunakan sendiri kalau B20 ini berjalan. Ganti semua mesin-mesin baik mesin mobil maupun mesin pembangkit listrik semua pakai diesel. Kapok mereka. Tapi ini perlu waktu," ujarnya.

Melanjutkan pernyataan, Joko bilang, pengurangan impor minyak mentah dan mengganti dengan biodiesel sawit akan berdampak positif bagi neraca perdagangan. "Ini akan membantu mengurangi defisit neraca perdagangan dan tentu saja akan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar rupiah," kata Joko yang dua periode menjabat Ketum Gapki ini.

Tahun ini, lanjutnya, produksi minyak sawit nasional bisa mencapai 42 juta ton. Sebanyak 30 juta ton bakal diekspor. "Kalau melihat besarnya produksi minyak sawit ini, program mandatori biodiesel B20 tidak akan pernah mengalami kesulitan bahan baku," katanya.

Sementara itu, Konferensi IPOC 2018 and 2019 Price Outlook ke-14 yang digelar di BICC Nusa Dua Bali, Kamis (1/11/2018), bertema Palm Oil Development: Contribution to SDGs.

Kalau tak ada aral, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro akan menyampaikan special address di hari pertama.

Sedangkan pembicara pada sesi konferensi, antara lain pakar komoditas dunia James Fry dari LMC International Inggris, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd Inggris, dan Thomas Mielke dari Oil World Jerman.

Sejumlah pembicara dari dalam negeri adalah, Musdalifah Mahmud (Deputi Kemenko Perekonomian bidang Pangan dan Pertanian), Mahendra Siregar (Council of Palm Oil Producing Countries), Aziz Hidayat (Ketua Sekretariat ISPO), dan beberapa pembicara lain. Lebih dari 1.500 peserta dari 36 negara hadir dalam konferensi minyak sawit terbesar di dunia tersebut. [ipe]

Komentar

x