Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 16:23 WIB

BKP Dorong Komsumsi Bahan Baku Pangan Lokal

Kamis, 1 November 2018 | 20:45 WIB

Berita Terkait

BKP Dorong Komsumsi Bahan Baku Pangan Lokal
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jember - Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengajak semua pihak melokalkan bahan baku industri makan minuman (Mamin). Indonesia mempunyai potensi besar menghasilkan bahan baku pangan untuk industri dalam negeri.

"Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya perubahan kebiasan (habit movement) baik di sisi hulu, usaha tani, maupun sektor paling hilir, yaitu meningkatkan konsumsi produk pangan yang berbahan baku lokal," ujar Agung, pada seminar dan workshop Internasional Plant Industry Food and Product Food (FPF) di Universitas Jember, Kamis (1/11/2018).

Perubahan usaha tani ini menurut Agung, dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. "Produktivitas singkong misalnya, harus mampu mencapi 50 ton/ha. Dengan produktivitas di atas 50 ton, petani dapat menjual singkongnya sekitar Rp1.200 dan sudah mendapatkan untung besar," jelas Agung dalam keterangan tertulisnya.

Masih menurut Agung, dengan harga singkong kurang dari Rp1.200/ kg, akan dihasilkan tepung mocaf dengan harga sekitar Rp5.000/kg. Harga tersebut bisa bersaing atau minimal sama dengan terigu untuk industri. "Kita bisa bayangkan, apabila produktivitas singkong lebih dari 50 ton/ha, harga tepung mocaf bisa lebih rendah lagi," papar Agung.

Melihat peluang tersebut, Agung menantang civitas academica Universitas Jember bisa mendapatkan inovasi dan teknologi budidaya singkong yang mempunyai provitas 80 ton/ha. Sementara itu BKP akan merumuskan kebijakan agar industri Mamin dapat meningkatkan penggunaan komponen bahan baku lokal. "Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak semua stakeholder untuk mulai mewujudkan gerakan melokalkan bahan baku lokal," tambah Agung.

Pangan dan produk pangan mempunyai sumbangan cukup besar pada perekonomian nasional, serta berpengaruh terhadap inflasi. Industri pangan dan minuman (Mamin) menjadi penyumbang kedua terbesar Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nonmigas.

Industri Mamin ini menyumbang 6,14 Persen PDB non migas pada 2017 dengan pertumbuhan 8,3 persen. Oleh karena itu pengembangan industri Mamin harus dijadikan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan.

Industri pangan dan produk pangan khususnya yang berbasis tepung-tepungan saat ini masih banyak menggunakan bahan baku impor, misalnya terigu. Tahun 2018 impor gandum dan terigu diperkirakan lebih dari 11 juta ton atau meningkat rata-rata 12,2%/tahun. Sementara Indonesia mempunyai potensi besar menghasilkan tepung singkong, jagung dan pati sagu. Produk tepung lokal tersebut dapat dijadikan bahan baku industri Mamin. [*]

Komentar

x