Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 20:45 WIB

Jokowi Perlu Percepat Masuknya Investasi Migas

Sabtu, 3 November 2018 | 01:09 WIB

Berita Terkait

Jokowi Perlu Percepat Masuknya Investasi Migas
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kebutuhan minyak dan gas di Indonesia terus meningkat. Tidak seimbang dengan produksi di dalam negeri, khususnya minyak.
Akibatnya, kebutuhan minyak harus ditutup dengan impor. Hal inilah yang membuat neraca dagang tekor dan berdampak kepada pelemahan nilai tukar rupiah. "Ada caranya, yakni dengan mencari sumber minyak baru. Di Indonesia ditemukan ladang baru, yakni di Banten. Kalau itu bisa segera dieksplorasi, kemungkinan Indonesia menambah cadangan minyaknya akan terwujud," jelas Akhmad Yuslizar Ketua Pospera Banten dalam seminar migas di Tangerang Selatan, Banten, Jumat (2/11/2018).
Sayangnya, beber Yuslizar, pengadaan ladang minyak baru di Indonesia, acapkali terganjal perizinan.Dalam hal ini, pemerintah harus bisa memangkas proses perizinan eksplorasi migas.
Kalau itu bisa dijalankan, lanjut Bang Yos, sapaan akrabnya, menjadi karpet merah kepada investor migas. Dengan masuknya investasi migas berpeluang ditemukannya sumber migas anyar. "Kondisi migas kita kritis, hanya saja kita meyakini dengan regulasi dan peraturan perijinan yang membaik maka akan berdampak bagi temuan migas baru," ucapnya.
Sementara, Sopiyan, Presnas 98 Banten sebagai salah satu narasumber dalam seminar itu mengatakan, otonomi daerah berdampak kepada munculnya peraturan perundangan yang bertentangan dengan pusat. "Mereka membuat produk perundangan baru yang menambah izin-izin baru menjadi sangat panjang. Alhasil meja-meja makin banyak dan pungli pun bertebaran," tandasnya.
Mashuri, Pengamat Forum Kajian Energi menambahkan, keputusan pemerintah Jokowi memangkas perizinan adalah kebijakan yang luar biasa. Di lain sisi, pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada publik tentang pentingnya penghematan energi. "Kita bukan lagi penghasil migas. Kita sudah impor dan cadangan kita hanya 3.3 miliar barel dan akan habis dalam 10 tahun mendatang," pungkas Mashuri. [tar]

Komentar

x