Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 16:23 WIB

Perang Dagang AS-China Bawa Berkah Sawit Indonesia

Sabtu, 3 November 2018 | 04:29 WIB

Berita Terkait

Perang Dagang AS-China Bawa Berkah Sawit Indonesia
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Nusa Dua - Foreign Agricultural Services, USDA Chris Rittgers mengungkapkan, perang dagang AS-Cina akan berdampak pada penurunan aktivitas ekspor-impor kacang kedelai. Di sinilah peluang bagi minyak sawit asal Indonesia.
Sejak perang dagang dimulai, China memboikot impor kacang kedelai dari Amerika lalu mengalihkan aktivitas impor mereka ke Brazil. Pemerintahan Cina memprediksi akan terjadinya pengurangan impor kacang kedelai pada 2018-2019 dari 93,9 juta ke 83,7 juta ton.
"Kebijakan pengurangan impor kedelai tersebut mendorong pemerintah Cina untuk mencari alternatif minyak nabati lain. Dan sudah barang tentu, pilihannya jatuh kepada sawit di Indonesia," kata Chris di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/11/2018).
Namun demikian, Chris memastikan, keputusan itu akan menekan harga kedelai. Sebaliknya justru memberikan keuntungan tersendiri bagi AS yaitu bertambahnya stok komoditas kedelai di tengah harga dan permintaan kacang kedelai yang semakin meninggi.
Pernyataan senada dikemukakan Dr James Fry, Chairman dari LMC International, Oxford, UK. Fry menilai kebijakan Trump, memang sedikit mempengaruhi harga minyak kedelai, namun di sisi lain juga menekan harga CPO karena harga minyak bumi (Brent) ikut terkoreksi.
Patokan utama dari harga CPO adalah Brent. Harga Brent yang menetapkan rentang perdagangan untuk minyak nabati di atas minyak mentah, serta tata cara penjualan palm methyl ester (biodiesel) sangat mempengaruhi CPO premium melalui tingkat stok minyak sawit.
Namun demikian, Fry memastikan korban terbesar dari perang dagang yang dilakukan Trump adalah petani kedelai di Amerika. "Pendapatan mereka akan berkurang hingga lebih dari 20%."
Hanya saja, pada satu sisi, petani juga diuntungkan karena harga kedelai di Amerika Selatan meningkat akibat berkurangnya panen di Argentina. Persoalannya kebijakan biofuel telah memperparah masalah di sektor kedelai dengan memotong mandat biofuel yang efektif, AS juga melakukan sanksi dan embargo terhadap tiga produsen minyak bumi terbesar, yakni Iran, Venezuela dan Rusia, hanya berdampak sedikit pada stok minyak mentah dunia.
Hal ini berimplikasi pada harga minyak mentah yang diperkirakan turun lagi dari level yang sebelumnya. Ini berarti produsen CPO harus berharap pada premium harga yang lebih tinggi untuk harga minyak sayur dibandingkan harga Brent.
Semenjak 2007, harga minyak bumi telah menetapkan harga dasar bagi harga minyak sayur yang ada di EU. Empat kali semenjak 2012, CPO Uni Eropa berada di harga dasar yang setara dengan harga Brent.
"Faktor kunci yang mempengaruhi harga saat ini adalah siklus produksi kelapa sawit. Pertama kalinya setelah waktu yang lama, siklus output di Malaysia dan Indonesia tidak sesuai harapan."
Hampir semua produsen besar mengikuti Malaysia dengan penurunan produksi yang terjadi dari tahun ke tahun. Sementara Indonesia menyumbang suplai sekitar 60% dari minyak sawit dunia, pertumbuhan Indonesia akan mengangkat output CPO dunia sebanyak lebih dari 4 juta ton.
Faktor penentu utama dari premium harga CPO Uni Eropa yang melewati Brent adalah stok di Malaysia. Hal ini karena MPOB telah mempublikasikan data terpercaya dalam jangka waktu 10 hari. Premium harga dan stok berjalan pada arah yang berbeda.
Kebijakan B20 Top
Dorab E Mistry dari Godrej International Limited memuji kebijakan biodiesel 20% (B20) yang dicetuskan Presiden Joko Widodo. Beleid ini merupakan buah dari lobby para pemangku kepentingan sawit termasuk GAPKI.
Kebijakan ini telah mengakibatkan industri sawit Indonesia menjadi dinamis. Faktor pendukung lain adalah penandatanganan kerjasama Indonesia dan India untuk mempromosikan ISPO ke pasar India. Secara umum, dapat dikatakan bahwa prospek Indonesia sangat cerah. Kondisi ini sangat berbeda dengan persoalan yang dihadapi Malaysia.
"Malaysia tertinggal jauh karena kesulitan menghadapi masalah ketenagakerjaan dan keterlambatan peremajaan kebun. Ini berdampak panen dan harga yang rendah.
Produksi minyak sawit pada 2019 diperkirakan terdampak oleh El Nino dalam intensitas sedang. Ini terjadi dengan biological low cycle yang akan mempengaruhi produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.
Kebutuhan energi dunia menunjukkan peningkatan yang baik. Demikian juga dengan peningkatan produksi pangan. Skenario pasokan minyak nabati dunia juga lebih baik di mana peningkatan lebih rendah.
Karena penumpukan stock, asumsi yang dipakai dalam membuat outlook diantara harga Brent. Harga brent crude sekitar USD 80-90 per barrel, dengan kemungkinan peningkatan suku bunga The Fed pada Desember 2018 dan 2019 serta pelambatan pertumbuhan GDP dunia pada tahun 2018.
Harga minyak sawit diperkirakan akan menyentuh harga paling rendah dan kemudian akan meningkat lagi. Future BMD akan mencapai 2100 ringgit dan membantu daya saing dari minyak sawit sehingga peningkatan naik. Jika harga minyak solar dan bensin naik, PME blending akan menjadi makin menarik. Sementara diharapkan RBD Olein akan berada di angka kurang dari USD 550 FOB.
Wakil Ketua GAPKI Togar Sitanggang memprediksi jumlah produksi kelapa sawit Indonesia hingga akhir tahun 2018 mencapai 42 juta ton. Perkiraan itu berasal sector swasta dengan luasan lahan 8-10 juta Ha dengan produksi 30-35 juta ton, lahan petani kecil seluas 4.5-6 juta Ha dengan produksi 6-9 ton,serta pemerintah dengan luasan lahan 500 ribu Ha serta produksi mencapai 1.8 ton.
Berdasarkan data BPS, hingga 2017, sebanyak 70% komoditas sawit yang dihasilkan oleh Indonesia di ekspor ke berbagai negara. Hingga saat ini, harus diakui bahwa negara pengimpor kelapa sawit Indonesia terbesar adalah India. Hingga 2017, India telah mengimpor kelapa sawit Indonesia hingga mencapai 7,9 juta ton, lalu diikuti oleh Uni Eropa dan Cina.
Hingga saat ini, meski pun negative campaign tentang komoditas kelapa sawit tengah marak di perbincangkan dan diproteksi oleh parlemen Uni Eropa, namun faktanya sejak tahun 2015 hingga tahun 2017 jumlah permintaan impor kelapa sawit di Kawasan tersebut terus naik. Kondisi kenaikan jumlah impor ini tidak jauh berbeda dengan Cina di mana berdasarkan data tahun 2016-2017 jumlah ekspor kelapa sawit Indonesia ke Cina terus mengalami peningkatan. [ipe]

Komentar

x