Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 05:32 WIB

Rudiantara: RI Punya Potensi Jumbo Ekonomi Digital

Kamis, 8 November 2018 | 03:09 WIB

Berita Terkait

Rudiantara: RI Punya Potensi Jumbo Ekonomi Digital
(Foto: ist)

INILAHCOM, Nusa Dua - Tak sedang bercanda, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, memperkirakan, potensi ekonomi digital di Indonesia mencapai US$130 miliar pada 2020. Wow.

"Nilainya mewakili 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang menjadikan Indonesia rumah bagi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, melebihi negara-negara lain di kawasan ini," kata Rudiantara saat memberikan pemaparan pada Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia atau World Conference Creative Economy (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).

Rudiantara menyampaikan, Asia akan menjadi penggerak utama budaya kreativitas dan inovasi ini, khususnya inovasi digital, dengan kebangkitan ekonomi kreatif dan digital seperti di China, India dan Indonesia. "Saya mengulangi, Indonesia sebagai ekonomi digital dan kreatif terbesar di Asia Tenggara, hanya di belakang China, India, dan Jepang," ungkap Rudiantara.

Ini merupakan kabar baik, karena nilai investasi Indonesia akan meningkat dan iklim investasi serta ekonomi digitalnya berkembang pesat menjadi sangat menarik bagi perusahaan rintisan untuk masuk.

Menurutnya, ekonomi digital global tumbuh dengan sangat cepat. Hampir dua kali lipat antara 2000 dan 2016, yang tumbuh 2,5 kali lebih cepat ketimbang PDB global selama periode yang sama.

Dengan asumsi tingkat pertumbuhan saat ini, investasi digital selama 10 tahun ke depan, diperkirakan mencapai US$23 triliun secara global pada 2025. Atau setara 24,3% dari PDB global.

Rudiantara memaparkan, ekonomi digital memiliki dua elemen penting. Yakni, pemikiran kreatif dan digitalisasi. Di mana, pemikiran kreatif kerap datang dari kaum milenial.

"Kita tahu bahwa milenial adalah aktor yang mendorong digitalisasi atau transformasi digital, karena mereka paham teknologi dan mudah menyerap tren baru dalam teknologi," ungkapnya.

Millenial atau pemuda adalah kelompok usia ini mengaburkan kehadiran online atau digital dengan kehadiran offline, yang terlihat dari banyak aktivitas mereka di pasar daring.

Ledakan populasi Indonesia diperkirakan berkontribusi pada 'bonus demografis' pada 2030. Di mana, populasi pemuda tambahan akan menjadi kekuatan pendorong ekonomi digital karena hingga 180 juta pemuda usia produktif akan memasuki angkatan kerja pada 2030. "Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa ekonomi digital diharapkan tumbuh dan berkontribusi pada 12 persen dari PDB pada 2020," ujarnya.

Kendati demikian, elemen digitalisasi masih menjadi tantangan, karena aksesnya belum merata. [tar]

Komentar

x