Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 05:34 WIB

Ayo Ber-UMKM, 'Obat Kuat' Melawan Krisis Ekonomi

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 8 November 2018 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Ayo Ber-UMKM, 'Obat Kuat' Melawan Krisis Ekonomi
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Penyakit krisis ekonomi yang menakutkan, tidak pandang bulu. Sektor ekonomi di seluruh negara di dunia bisa terjangkiti. Termasuk Indonesia.

Namun, ada salah satu sektor ekonomi yang boleh dibilang bisa menjadi 'obat kuat' dalam menghadapi krisis. Sektor tersebut adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM.

"Para UKM di Indonesia sudah banyak belajar dari krisis yang dialami negeri ini. Yaitu, krisis moneter 1998, 2003, 2005, 2008, 2017, hingga 2018. Mereka menjadi lebih tangguh dan responsif ketika krisis global melanda ke Indonesia," kata Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam sebuah diskusi bertemakan 'Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang dan Tantangan bagi KUKM' di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Menurut Ryan banyak faktor yang membuat UMKM bisa tahan dari krisis salah satunya karena kegiatan UMKM paling banyak di sektor barang konsumsi dan jasa yang lebih dekat dengan masyarakat.

Tak hanya itu biasanya pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik itu untuk sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor.

Indikator lain yang dapat dilihat yaitu pertumbuhan kredit perbankan saat ini sekitar 12,6% yang didominasi sektor pertanian, industri, dan perdagangan (usaha besar, menengah, dan kecil). Transaksi pembayaran sektor ritel juga terus meningkat signifikan.

"Memang, ada pelambatan kredit perbankan di sektor UMKM. Tapi, saya meyakini itu hanya sementara dan akan kembali meningkat pada 2019," jelas Ryan.

Sementara itu, Kementerian Koperasi dan UKM memprediksi, pada tahun ini, kontribusi sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa tumbuh hingga melebihi capaian tahun lalu yang kala itu sebesar 62%.

Prediksi tersebut didasarkan pada jumlah pelaku UMKM yang terus meningkat. Pada tahun ini, rasio wirausaha di Indonesia diprediksi mencapai 7% dari total penduduk keseluruhan.

Sebelumnya, pada 2014, rasio wirausaha di Tanah Air baru 1,55%, kemudian meningkat menjadi 1,65% di 2016, dan bergerak ke 3,1% pada akhir 2017. "Jumlah UMKM terus bertumbuh, termasuk dari startup. Itu yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap PDB," ujar Kepala Biro Perencanaan Kemnterian Koperasi dan UKM (KUKM) Ahmad Zabadi.

Selain itu, banyaknya event-event bertaraf internasional mulai dari Asian Games, Annual Meeting IMF-WB dan acara-acara lainnya pada tahun ini juga akan menjadi stimulus tersendiri bagi kinerja para pelaku UMKM. "Tidak hanya di dalam negeri yang menjadi surga bagi produk-produk UMKM kita, kawasan ASEAN juga menjadi sasaran," tuturnya.

Ia mengatakan, pada tahun lalu, terdapat 300 pelaku UMKM binaan Kementerian KUKM yang telah berhasil menembus pasar ekspor. Pihaknya juga melihat potensi ada 3.000 UMKM lainnya yang siap go international.

Kendati ditargetkan kontribusi UMKM kepada PDB lebih dari 62%, Zabadi menilai angka itu masih rendah lantaran pelaku UMKM di Indonesia merepresentasikan 99,9% dari seluruh pebisnis di Tanah Air.

"Karena artinya, 38% kontribusi PDB itu berasal dari 0,01% pelaku usaha besar. Kami harap angka kontribusi UMKM ke depannya akan terus bertambah demi ekonomi berkeadilan dan mendistribusikan kesejahteraan yang lebih merata," tandasnya. [ipe]


Komentar

x