Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 05:33 WIB

Indonesia Belajar Fintech Hingga ke Swiss

Jumat, 9 November 2018 | 18:50 WIB

Berita Terkait

Indonesia Belajar Fintech Hingga ke Swiss
(Foto: Dok)

INILAHCOM, Jakarta - Perubahan lanskap ekonomi dan keuangan akibat financial technology (fintech) menawarkan berbagai peluang sekaligus meningkatkan potensi risiko.

Fintech dapat mendukung pengembangan keuangan, inklusi, dan efisiensi, namun dapat menimbulkan risiko bagi konsumen dan investor. Lebih luas lagi, berdampak kepada stabilitas keuangan.

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Jumat (9/11/2018), pandangan tersebut mengemuka di hari pertama pembukaan misi pencarian fakta tentang fintech di Swiss (Fact finding mission on Swiss Fintech) yang digelar di Kedutaan Besar RI (KBRI), Kota Bern, Swiss, selasa (6/11/2018).

Sejalan dengan Bali Fintech Agenda, pasca pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali 8-14 Oktober 2018, Fact-finding Mission on Swiss Fintech yang diselenggarakan KBRI Bern diikuti 30 stakeholder dari ekosistem fintech Indonesia.
Mereka berasal dari regulator, pelaku industri, asosiasi, bank, dan kamar dagang.

Di antara para delegasi, yakni jajaran delegasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk Anggota Dewan Komisioner OJK Nurhaida. Serta delegasi Bank Indonesia, Bukalapak, Investree, Amartha Mikro Fintech, bank-bank BUMN, bank syariah, dan bank perkreditan rakyat dari seluruh Indonesia.

Dalam agenda yang diinisiasi KBRI Bern selama 4 hari, sejak 69 November 2018, para delegasi berkesempatan untuk berkunjung ke berbagai organisasi di sektor finansial. Antara lain, State Secretariat for International Financial Matters, Switzerland Global Enterprise, Swiss National Bank.

Tak lupa, inkubator bisnis dan akselerator startup fintech setempat. Dan, para delegasi juga bertemu dengan sejumlah asosiasi di sektor fintech di Swiss.

Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman D Hadad, menyampaikan, tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menjajaki kerja sama antara sektor fintech Indonesia-Swiss.

"Indonesia dan Swiss merupakan dua negara yang berpotensi saling melengkapi dan dapat saling belajar dalam bidang fintech," ujar Muliaman.
"Pertumbuhan sektor fintech di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara, sedangkan Swiss dikenal luas sebagai salah satu pusat keuangan dunia dan memiliki ekosistem fintech terbaik di dunia," lanjut mantan Ketua OJK ini.

Muliaman berharap, para stakeholder di sektor finansial teknologi di Indonesia, mampu mempelajari landscape fintech di Swiss. Selanjutnya, membawa ilmunya untuk membangun ekosistem yang kuat bagi fintech di tanah air.

Dalam pertemuan di State Secretariat for International Financial Matters, terkuak bahwa 9% dari GDP Swiss berasal dari sektor finansial. Sangat wajar bila Pemerintah Swiss sangat berhati-hati dan mengawasi dengan seksama perkembangan fintech. Termasuk menyiapkan ekosistem dari principal based, teknologi, sumber daya manusia, juga infrastruktur.

Adapun pencarian fakta di Switzerland Global Enterprise hari kedua, membuka peluang ekspansi bisnis fintech Indonesia di Swiss.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPBI) yang hadir sebagai salah satu peserta, Adrian Gunadi, menyampaikan, misi pencarian fakta fintech ke Swiss ini merupakan program yang sangat penting dan timely. Terutama pasca pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali pada Oktober lalu.

"Pendekatan Pemerintah Swiss terhadap fintech lebih menekankan pada principal based bukan regulation based. Hal ini sejalan dengan principal based hasil dari Bali Fintech Agenda pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali bulan Oktober lalu," tutur Adrian.

Agenda misi pencarian fakta akan dilanjutkan dengan menunjungi bank sentral Swiss, Crypto Valley Association, dan inkubator-inkubator fintech, juga pertemuan bisnis dengan Zurich Insurance, Credit Suisse, dan UBS Bank di masa kemudian hari. [ipe]

Komentar

x