Find and Follow Us

Senin, 17 Juni 2019 | 05:02 WIB

OJK Ingatkan Fintech juga Berisiko

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 13 November 2018 | 13:01 WIB
OJK Ingatkan Fintech juga Berisiko
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida - (Foto: Inilahcom)

INILACOM, Jakarta - Perkembangan industri teknologi makin hari makin pesat saja, semua aspek kehidupan manusia dari bangun tidur hingga tidur kembali lagi tak ada yang terlepas dari teknologi.

Semisal dari sisi keuangan, pinjam-meminjam yang kini tak perlu repot lagi karena kehadiran Financial Technology (Fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending. Untuk calon peminjam hanya tinggal pencat-pencet gadget-nya pinjaman langsung cair, tentu besaran pinjamannya berbeda dengan pinjaman bank yang konvensional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 73 perusahaan financial technology (Fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending. Jumlah pelaku bisnis ini diyakini akan terus bertambah, karena masih ada ratusan perusahaan yang antre untuk terdaftar dan mengantongi izin.

"Fenomena teknologi ini memang menciptakan tantangan baru dari risiko hingga opportunity," kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida dalam sebuah Seminar Nasional Financial Sector 4.0 di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Peluang tersebut, menurut Nurhaida adalah cara mengembangkan industri jasa keuangan agar bisa berkembang mengikuti teknologi. Hal ini terutama tugas OJK yang ingin mendorong terciptanya inklusi keuangan secara nasional.

"Misalnya financial technology untuk mendorong inklusi keuangan," katanya.

Namun bisnis ini juga bisa berdampak negatif jika tidak diawasi dan dijalankan dengan baik dan benar. "Namun jika tidak hati-hati maka disrupsi finansial bisa terjadi," katanya.

Semisal dengan pokok beban bunga bagi para peminjam, jika tidak diberikan informasi dan aturan yang benar, bisa-bisa sanga peminjam bisa terkena dampak bunga yang tinggi.

Untuk menghindari tingkat bunga yang dinilai tinggi tersebut, Nurhaida mengaku OJK hanya dapat mengatur kewajiban agar perusahaan P2P lending ini lebih terbuka mengenai informasi penggunaan dana atau pinjaman yang diajukan.

"Kalau si peminjam transparan tentang kondisi bisnis, masa depan bisnis, prospek ke depan maka dengan ini yang meminjamkan akan bisa mengakses risiko. Ini akan terkait dengan besarnya return yang diharapkan atau bunga yang akan dikenakan," kata Nurhaida. [hid]

Komentar

Embed Widget
x