Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 06:35 WIB

CAD Tembus US$8,8 Miliar, BI Masih Bilang Aman

Rabu, 21 November 2018 | 13:15 WIB

Berita Terkait

CAD Tembus US$8,8 Miliar, BI Masih Bilang Aman
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menyebut defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun ini, masih tergolong sehat.

Kenapa sehat? Masih kata Dody, karena impor untuk belanja modal (capital expenditure/capex) lebih gede ketimbang impor konsumsi.

"Defisit ini adalah defisit yang sehat karena untuk keperluan perekonomian, impornya untuk investasi. Impor yang tumbuh 12-13 persen mostly karena kegiatan ekonomi, kegiatan investasi, pembangunan infrastruktur yang memang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh di 5,1-5,2. Artinya relatif impor capex di atas impor konsumsi. Ini yang memberikan optimisme," ujar Dody saat menjadi pembicara kunci dalam acara diskusi CORE Economic Outlook 2019 di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Bank sentral mencatat, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2018 meningkat menjadi 3,37% dari PDB. Atau setara US$8,8 miliar, jauh di atas kuartal II-2018 sebesar 3,02% dari PDB, atau setara US$8 miliar.

Meski pada paruh ketiga ini defisit meningkat, namun jika dicermati sejak awal tahun hingga akhir kuartal III 2018, defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif sebesar 2,86% dari PDB.

Menurut bank sentral, defisit yang meningkat pada kuartal III-2018, karena memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan melebarnya defisit neraca jasa. "Isu defisit tiga persen ini kalau kita lihat di tahun ini karena pembiayaannya atau financial account tidak signifikan," ujar Dody.

Ia mengatakan, penting bagi bank sentral untuk menerapkan kebijakan moneter dengan melihat dari dua sisi yaitu neraca transaksi berjalan dan juga neraca jasa, karena keduanya menjadi sumber yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kebijakan moneter ketat yang dilakukan oleh BI dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin, merupakan upaya untuk mengurani semakin melebarnya defisit transaksi berjalan.

"Dengan kita menaikkan suku bungaa, kita akan mengurangi tekanan dari sisi permintaan domestik, yang kemudian akan mengurangi impor, dan akhirnya mengurangi CAD," ujar Dody.

Tahun depan, lanjutnya, defisit neraca transaksi berjalan, diharapkan bisa berkurang dan kembali bergerak di bawah 3%. Sejauh ini, langkah pemerintah untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, mulai dari penerapan B20 hingga penundaan sejumlah proyek infrastruktur yang berkonten impor tinggi, layak diapresiasi.

"Sekarang semua tema besarnya memerangi CAD. Kita harapkan current account bisa di bawah tiga persen di 2019," kata Dody. [tar]

Komentar

x