Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 05:34 WIB

CORE: Ekspor Makin Rebah Tahun Depan

Kamis, 22 November 2018 | 13:23 WIB

Berita Terkait

CORE: Ekspor Makin Rebah Tahun Depan
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, memrediksikan pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2019 berpotensi tertekan. Lantaran perekonomian global mandek.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal dalam diskusi CORE Economic Outlook 2019 di Jakarta, Rabu (21/11/2108) mengatakan, daya dorong ekonomi global terhadap ekonomi domestik pada 2019 diprediksi masih terbatas.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia seperti Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, diperkirakan melambat pada tahun depan.

Dana Moneter Internasional (IMF), memrediksikan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat dari 6,5% (2018) menjadi 6,2% (2019). Perekonomian AS melambat dari 2,9% menjadi 2,5%. Sementara Uni Eropa melambat dari 2,2% menjadi 2%. Bahkan, pertumbuhan ekonomi negara di ASEAN diprediksi juga melambat dari 5,3% menjadi 5,2%.

"Masih berlanjutnya efek perang dagang antara AS dan Tiongkok menjadi salah satu penyebab perlambatan ekonomi dunia tahun depan," ujar Faisal.

Ia menuturkan, perlambatan ekonomi negara-negara mitra dagang terbesar, berpotensi menekan permintaan terhadap impor negara-negara tersebut. Pada saat yang sama, harga sejumlah komoditas, termasuk komoditas andalan Indonesia seperti kelapa sawit, batubara, dan karet, cenderng melemah.

"Ditambah dengan efek kebijakan sejumlah negara-negara tujuan ekspor utama, seperti AS, Uni Eropa, dan India, yang masih cenderung protektif, pertumbuhan ekspor Indonesia tahun depan berpotensi terus tertekan," kata Faisal.

Faisal menambahkan, gejala pelemahan ekspor khususnya ke pasar utama sudah terlihat sejak 2018. Pada periode Januari hingga Oktober 2018, ekspor nonmigas ke AS hanya tumbuh 3,7%. Sepertiga dari pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu mencapai 10,3%. Ekspor nonmigas ke Tiongkok memang masih tumbuh 22% namun capaian itu kurang dari separuh pertumbuhan ekspor pada periode yang sama pada 2017.

Pelemahan nilai tukar rupiah, lanjutnya, nampaknya tidak banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekspor. Menurut Faisal hal tersebut wajar saja mengingat ekspor Indonesia sebagian besar masih merupakan ekspor komoditas yang lebih banyak terpengaruh oleh harga di pasar global.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor manufaktur malah jauh lebih lambat lagi, yakni hanya mencapai 5% berbanding ekspor komoditas yang mencapai 22% sepanjang Januar hingga Oktober 2018.

"Manakala pertumbuhan ekspor masih tertekn, akselerasi impor yang terjadi pada tahun ini nampaknya masih akan sukar untuk dikendalikan tahun depan. Pasalnya, dua faktor eksternal pendorong utama percepatan impor yakni pelemahan Rupiah dan peningkatan harga minyak dunia, masih eksis di tahun 2019," ujar Faisal.

Meskipun dalam sebulan terakhir harga minyak melemah akibat kebijakan dispensasi AS terhadap ekspor minyak Iran, potensi untuk kembali meningkat di tahun depan sangat besar sejalan dengan rencana negara-negara OPEC, khususnya Arab Saudi dan Rusia, untuk melakukan pemangkasan produksi (prodouction cut) tahun depan.

Begitu pula tekanan terhadap Rupiah, Faisal memprediksi masih berlanjut meskipun relatif lebih jinak dibandingkan tahun ini. Sementara pelemahan Rupiah tidak banyak berdampak pada penguatan ekspor, pada sisi impor justru memiliki daya dorong sangat signifikan.

"Pasalnya, berbeda dengan struktur ekspor yang didominasi komoditas, struktur impor sangat didominasi oleh produk manufaktur, baik dalam bentuk barang konsumsi, barang modal, maupun bahan baku dan penolong industri," kata Faisal. [tar]

Komentar

x