Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Maret 2019 | 00:23 WIB

Berharap Asuransi Pertanian Beri Ketenangan Petani

Selasa, 27 November 2018 | 06:00 WIB

Berita Terkait

Berharap Asuransi Pertanian Beri Ketenangan Petani
(Foto: DitjenPSP/dok)

INILAHCOM, Jakarta - Banyak kejadian seperti musim hujan, banjir, tanah longsor, bahkan hingga datangnya hama yang tidak terduga sehingga menyebabkan pertanian gagal total. Petani harus memahami dan bisa mengantisipasi ancaman risiko pertanian di era sekarang tersebut.

Jika gangguan tak terduga (force major) tersebut terjadi, seringkali petani mengambil jalan pintas dengan mendatangi tengkulak untuk meminjam uang guna membangun kembali pertanian yang gagal. Setelah hasil pertanian keluar, maka tengkulak akan membeli hasil pertanian dengan harga yang sangat rendah sebagai ganti bayar petani yang sudah meminjam uang.

Sebagai bangsa yang besar, cita-cita tertinggi negara ialah mampu mewujudkan pemenuhan kebutuhan pangan bagi warga negaranya. Upaya untuk memenuhi itu semua tidak lain yaitu dengan hadirnya petani sebagai ujung tombak pencipta produk-produk pangan yang memadai.

Menghadirkan produk pangan tidak semudah yang dibayangkan, ada banyak proses yang harus dilalui oleh petani, serta adanya hambatan. Salah satunya persoalannya yakni risiko, kegagalan dalam berusaha tani masih menjadi momok yang paling ditakuti oleh petani. Sementara kepastian keberhasilan dalam budidaya tani sangat dinantikan.

"Indikator keberhasilan petani dalam berusahatani yaitu adanya hasil panen yang diperoleh, sehingga tersedianya cadangan pangan nasional. Mengsinkronkan antara dua persoalan, antara keberhasilan usahatani dengan risiko berusahatani ialah dengan menghadirkan program Asuransi Pertanian," ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Pending Dadih.

Asuransi pertanian hadir sebagai bentuk implementasi UU perlindungan dan pemberdayaan petani No 19 tahun 2013. Dalam pasal 3 menyebutkan bahwa perlindungan dan pemberdayaan petani bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian petani dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kehidupan yang lebih baik.

Advertisement

Pada bagian kedelapan, pasal 37 menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melindungi usaha tani yang dilakukan oleh petani dalam bentuk asuransi pertanian. "Hal ini menjadi angin segar bagi petani sehingga rasa khawatir dalam berusaha tani tidak lagi menjadi persoalan," kata Pending Dadih.

Asuransi Pertanian menawarkan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektar, dengan masa pertanggungan sampai dengan masa panen 4 bulan. Sementara untuk peternakan, menjamin hewan ternak dengan premi Rp200.000 per ekor per tahun, dimana Rp160.000 ditanggung pemerintah dan sisa Rp40.000 dari swadaya petani dengan ganti rugi yang dibayarkan sebesar Rp10 juta per ekor.

"Ini agar petani tidak merasakan ketakutan gagal panen lagi. Peternak sapi juga tidak khawatir bila ternakannya mati," papar Pending Dadih.

Kebijakan telah dikeluarkan, arah angin pun sudah jelas. Akan tetapi sebagai bentuk mengejawantahkan kebijakan, perlu kiranya melakukan sosialisasi kepada semua stakeholder baik ditingkat pusat sampai ke tingkat petani di desa-desa. Hadirnya program baru membawa semangat dan harapan baru sehingga berbagai persoalan sebelumnya dapat diselesaikan dengan baik dan benar.

"Untuk meneruskan informasi program, diperlukan upaya keras dan sistemastis agar dapat dengan cepat informasi diterima oleh semua pihak sehingga program asuransi pertanian dapat berjalan dengan baik," tambahnya.

Asuransi pertanian diharapkan dapat memberi rasa aman bagi petani. Sehingga keberlangsungan dalam budidaya dapat terus tercipta. "Keberlangsungan berusaha tani dapat menciptakan pendapatan yang terus menerus, sehingga kepastian dan kekhawatiran petani dapat terjawab," pungkasnya. [Adv]

Komentar

x