Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 05:59 WIB

4 Tahun Pemerintahan Jokowi

CAD Makin Tambun, Pertanda Buruk Ekonomi

Oleh : Herdi Sahrassad | Selasa, 27 November 2018 | 04:19 WIB

Berita Terkait

CAD Makin Tambun, Pertanda Buruk Ekonomi
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Di penghujung pemerintahan Joko Widodo, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) membengkak. Sungguh ini modal tak baik bagi perekonomian di tahun depan.

Dosen Laboratorium Statistik P3M Universitas Indonesia (UI), Andy Azisi Amin, memaparkan, defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2018 membengkak menjadi US$8,8 miliar. Atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kecenderungan ini mengkhawatirkan dan menjadi yang tertinggi setelah kuartal II-2014 sempat nangkring di US$9,5 miliar, atau setara 4,26% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

"Defisit neraca jasa mengindikasikan lemahnya jasa transportasi domestik dalam melayani kebutuhan perdagangan luar negeri. Sedangkan tren penurunan kinerja ekspor dan komposisi ekspor yang terus didominasi komoditas, mencerminkan lemahnya pendalaman struktur industri nasional," terang Direktur Salemba Real Estate Institut ini

Pemerintah perlu segera menyiapkan program jangka pendek maupun jangka panjang secara lebih serius untuk meningkatkan ekspor produk barang dan jasa.

Peningkatan nilai ekspor barang dan jasa selain mencegah terjadinya defisit transaksi berjalan juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan pertambahan cadangan devisa negara.

Indonesia merupakan negara keempat populasi terbanyak setelah Tiongkok, India, dan Amerika. Jika transaksi berjalannya terus mengalami defisit, itu berarti lebih banyak impor.

Meskipun defisit transaksi berjalan saat ini belum terlalu berbahaya namun bila terjadi terus menerus , sedangkan kita banyak bergantung kepada negara lain itu, hal itu menjadi sangat berbahaya.

Solusinya tidak bisa diselesaikan hanya lewat crash program. Tapi harus dipersiapkan sejak lama dan juga untuk jangka waktu lama dengan tidak melupakan saat ini. Program tersebut harus dapat meningkatkan nilai ekspor.

"Seyogyanya, RI dapat melakukan program peningkatan ekspor, yang berarti kita dapat membuat program peningkatan nilai tambah apapun yang dihasilkan oleh tenaga kerja kita di dalam negeri," papar Andy.

Sedangkan Dosen Kebijakan Publik Administrasi Bisnis Institut STIAMI, Eman Sulaeman Nasim, menilai, kalangan ahli ekonomi menilai positif program pemerintahan Presiden Jokowi yang akan mengubah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan dengan cara meningkatkan ekspor. Di mana, ekspor harus digenjot agar lebih besar ketimbang impor. Tentu saja, ketergantungan terhadap impor harus bisa dikurangi.

Sayangnya, ucapan Jokowi itu acapkali berbanding terbalik dengan tindakan. "Implementasi di lapangan sering kali jauh dari kenyataan. Ini juga yang membuat Presiden Jokowi tidak sabar atas kinerja aparat di bawahnya," ujarnya.

Pemerintah harus menggenjot pertumbuhan ekonomi, namun adanya paket relaksasi daftar negatif investasi (DNI) yang dikeluarkan pemerintah bukannya akan memperkecil defisit transaksi berjalan, justru bakal semakin memperbesar.

Demikian disampaikan Ekonom dari Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra, Senin (26/11/2018). Pada jangka menengah, relaksasi DNI malah berdampak defisit transaksi berjalan semakin besar, karena meningkatnya aliran deviden ke luar negeri.

Analis ekonomi asal UBK ini, berharap, kebijakan tersebut dibatalkan saja. Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution bilang, relaksasi DNI merupakan kebijakan yang harus dilaksanakan mengingat defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) masih melebar saat ini.

Dengan begitu, menurut Darmin, pemerintah perlu menerbitkan kebijakan yang yang dapat meningkatkan transaksi modal dan finansial, sehingga dapat mengimbangi defisit.

Gede pun menyatakan komponen terbesar defisit dalam transaksi berjalan (current account) adalah defisit dalam transaksi pendapatan primer (primary income) yang mencapai -8 miliar dolar AS.

Disusul komponen berikutnya, defisit neraca jasa sebesar -2,2 miliar dolar AS dan defisit neraca barang -0,4 miliar dolar AS. "Dividen atau pendapatan atas investasi asing masuk ke dalam komponen transaksi pendapatan primer tersebut, yang defisitnya saat ini adalah penyumbang terbesar dalam CAD," demikian Gede.

Pemerintah harus mampu menaikkan ekspor melebih impor untuk menghentikan ancaman defisit transasi berjalan yang memasuki zona berbahaya. Industrialisasi pertanian dan kelautan harus digeber dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Agar, ya itu tadi, defisit transaksi berjalan bisa digerus. Tapi mampukah? [ipe]



Komentar

x