Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 06:30 WIB

Soal Pungutan Sawit , Gapki: Terima Kasih Jokowi

Rabu, 28 November 2018 | 05:09 WIB

Berita Terkait

Soal Pungutan Sawit , Gapki: Terima Kasih Jokowi
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menanggapi penghentian sementara pungutan ekspor minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO), Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi mengapresiasi.

Menurut dia, posisi harga CPO di bawah US$500 per ton, sangat mengkhawatirkan terlepas dari faktor apa yang mempengaruhi penurunan harga tersebut.

"Kita bersyukur akhirnya pemerintah mau mendengar keluhan pengusaha sawit dan petani sawit berkaitan dengan kondisi harga minyak sawit yang turun drastis hingga di bawah biaya produksi. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya kepada Presiden Jokowi atas dukungan beliau yang sangat besar terhadap industri kelapa sawit," ujar Tofan di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Keputusan pemerintah ini, lanjut Tofan, merupakan solusi jangka pendek yang memang mendesak diterapkan. "Ini merupakan langkah luar biasa baik. Karena kondisi industri sawit bisa dikatakan tinggal menghitung hari. Jika tak ada solusi, perusahaan sawit akan kolaps dan meningkatkan jumlah penganguran," jelasnya.

Indonesia sebagai eksportir terbesar minyak sawit niscaya mengalami dampak yang hebat dengan terus turunnya harga komoditas ini. Tak hanya membuat salah satu mesin pertumbuhan ekonomi ini tak bisa berakselerasi, tetapi juga memicu dampak turunan lainnya dalam aspek penyerapan tenaga kerja. Tofan mengingatkan, industri sawit nasional saat ini menyerap tak kurang dari 17 juta tenaga kerja dan petani. "Mereka harus dilindungi," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, tren penurunan harga minyak sawit ini juga belum bisa diprediksi kapan akan kembali naik. Menurut dia, penurunan harga minyak sawit ini terjadi karena beberapa faktor, di mana suplai di dalam negeri yang melimpah, sementara permintaan di pasar luar negeri menurun dan permintaan di dalam negeri belum bisa dimaksimalkan.

"Dalam kondisi demikian, pilihan yang relevan adalah tetap berupaya meningkatkan ekspor minyak sawit kita dengan cara meningkatkan daya saingnya. Pembebasan sementara pungutan ekpor CPO ini adalah satu solusi jangka pendeknya," jelas Tofan.

Intervensi pemerintah, lanjut mantan wartawan Jawa Pos ini, memang mendesak dilakukan. Untuk meningkatkan daya saing industri sawit di Tanah Air sehingga menjadi lebih kompetitif di pasar ekspor. Bila tidak kompetitif akan menekan harga tandan buah sawit di tingkat petani.

"Jadi, sekali lagi, pembebasan sementara pungutan ekpor CPO adalah solusi jangka pendek yang layak dijalankan. Soal solusi jangka menengah dan panjang, nanti perlu didiskusikan kembali oleh para pemangku kepentingan di industri sawit. Terutama bagaimana upaya untuk terus meningkatkan daya saing dan ekspor minyak sawit kita," ujar Tofan.[tar]

Komentar

x