Find and Follow Us

Selasa, 16 Juli 2019 | 20:42 WIB

Tahun Politik 2019, Waspadai Impor & Pengangguran

Senin, 3 Desember 2018 | 05:09 WIB
Tahun Politik 2019, Waspadai Impor & Pengangguran
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tahun depan, defisit neraca transaksi berjalan atawa current account deficit (CAD) masih akan menggelayuti pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Ketergantungan impor perlu segera dibatasi.

Menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, masalah CAD adalah salah satu dari tiga tantangan serius yang bakal dihadapi pemerintah di 2019. Jadi, masih ada dua masalah krusial lagi.

Pada triwulan III-2018, CAD tembus US$ 8,8 miliar atau 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Lebih tinggi ketimbang CAD triwulan II 2018 sebesar US$8 miliar atau 3,02% dari PDB.

"Solusinya tekan defisit migas dengan meningkatkan lifting minyak dan energi alternatif misalnya biodiesel. Kemudian dorong ekspor ke negara alternatif. Ketergantungan ke AS dan negara tujuan tradisional lainnya berbahaya bagi keberlanjutan ekspor," jelas Bhima.

Kemudian mengenai kualitas tenaga kerja belum ideal Bhima menjelaskan, sebanyak 60% tenaga kerja merupakan lulusan sekolah menengah pertama (SMP), bahkan di bawahnya. Sedangkan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) menduduki tingkat pengangguran tertinggi.

Bhima menyarankan, pemerintah merombak total kurikulum SMK dan sekolah vokasi dengan memperbanyak magang dan penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri. "Perbanyak ahli IT yang high skill bukan driver online," tandasnya.

Selanjutnya mengenai potret ekspor sumber daya alam yang didominasi naham mentah. Saat ini, sebesar 70% ekspor berbentuk bahan mentah dan olahan primer. Sementara industri manufaktur makin turun porsinya terhadap PDB. Tanpa penguatan manufaktur Indonesia akan terjebak pada middle income trap.

Bhima mengatakan mestinya pemerintah melakukan reindustrialisasi dengan fokus memberikan insentif untuk pengembangan kawasan industri. Serta menurunkan harga energi khususnya gas industri. "Saran saya lebih fokus tiga hal itu. Kalau bisa diselesaikan otomatis kemiskinan, pengangguran dan masalah turunan lainnya akan membaik," kata Bhima. [tar]

Komentar

Embed Widget
x