Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 06:01 WIB

2019, Defisit Neraca Migas Semakin Gendut

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 4 Desember 2018 | 01:40 WIB

Berita Terkait

2019, Defisit Neraca Migas Semakin Gendut
Mantan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menyebut, defisit migas pada neraca perdagangan tahun 2018 belum seberapa. Hal ini bila dibandingkan dengan potensi defisit tahun depan.

Menurut dia, defisit migas tahun depan lebih besar dari tahun ini. Dengan begitu dia merasa heran dengan pernyataan yang dikeluarkan BPS, BI, dan Menko Perekonomian Darmin Nasution yang menyebut defisit migas tahun ini adalah terbesar sepanjang sejarah.

"Beberapa minggu lalu ada yang lucu lagi. Dari BI, BPS, Darmin mengatakan neraca pembayaran kita ini defisit. Defisitnya besar paling besar dari migas, bahkan dikatakan ini terbesar sejarah. Bapak salah, karena tahun depan akan besar lagi, tahun depannya lebih besar lagi," kata Amien dalam sambutan pelantikan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018).

Menurut dia, SKK Migas sudah berusaha menaikan lifting minyak. Namun, tak bisa memenuhi kebutuhan. Sebab, kebutuhan minyak dalam negeri sangat banyak.

"Tim SKK sudah berusaha meningkatkan produksi, tapi saya katakan kalau lihat lifting minyak paling naik 300 ribu bph. Itu bukan yang dibutuhkan Indonesia, Indonesia butuh 1,5 juta bph. Sejak jaman dulu tidak satupun perusahaan Indonesia pernah discovery seukuran giant discovery," kata dia.

Dengan demikian dia berharap kedepan ada temuan lapangan baru. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan minyak di dalam negeri dan menambal defisit migas.

"Indonesia butuh giant discovery. Pertamina atau yg lainnya tidak pernah giant discovery. Tapi sekarang Pertamina dan perusahaan lain terikat kontrak dengan SKK untuk penggunaan eksplorasi dengan nilai USD2 miliar," kata dia.

Diketahui data BPS mencatat defisit migas RI per kuartal III-2018 mencapai USD 10,73 miliar atau setara Rp 158 triliun. Jika dibandingkan 2017 kian lebar. Dimana defisit migas hanya tercatat sebesar USD 6,59 miliar. [jin]

Komentar

x