Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 05:38 WIB

Harga Pangan Naik, Kementan Keluhkan Distribusi

Selasa, 4 Desember 2018 | 19:08 WIB

Berita Terkait

Harga Pangan Naik, Kementan Keluhkan Distribusi
(Foto: inilahcom/ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Dari dulu hingga kini, menjaga stabilitas harga pangan bukan perkara mudah. Kendalanya cukup banyak, salah satunya distribusi yang belum mumpuni. Bisa karena minimnyaa infrastruktur atau kondisi geografis.

Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), Hari Priyono mengakui masih lemahnya distribusi di sektor pangan. Kendala ini dipicu kondisi geografis Indonesia yang banyak memiliki pulau. "Distribusi dan logistik mengambil margin yang cukup besar," kata Hari dalam diskusi bertajuk Outlook Agribisnis 2018 dan Proyeksi 2019 di Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Kementan, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Hari mencontohkan, produksi pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dikirim ke Pulau Jawa. Begitu pula produksi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa, perlu waktu panjang.

Selama ini banyak pihak termasuk pengamat, ia melanjutkan, membandingkan Indonesia dengan negara lain, misalnya Thailand dan Amerika Serikat (AS). Di mana, produksi pertanian selalu ada alias tidak kekurangan, namun kerap dipertanyakan karena harga tinggi. "Padahal, produksi itu benar ada hanya saja, di beberapa titik tertentu sementara harga menjadi indikator dalam mengambil keputusan," paparnya.

Indikator harga, kata dia, membuat pemerintah memilih untuk melakukan impor. Kementan, sejatinya tidak anti impor. Namun berharap pengaturan yang tepat, misalnya tidak melakukan impor pada panen raya. "Kalau butuh, dimungkinkan untuk impor secara bijaksana," tegas dia.

Selain masalah tersebut, persoalan pangan yang dihadapi Indonesia ialah pasar internasional. Pasar internasional secara ekonomi mempengaruhi kondisi dalam negeri misalnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Terjadinya perang dagang antara kedua negara sebenarnya merupakan peluang. Kondisi itu membuat Cina akan memperluas investasi mitra kerja sebagai dampak dari AS yang menutup atau mengenakan impor tinggi atas komoditias Cina. "Meski belakangan diberitakan mereda, tapi tetap akan mewarnai," ungkapnya.

Disamping itu, harga internasional beberapa komoditas ekspor unggulan seperti kelapa sawit, karet dan kopi, semestinya menjadi perhatian. Indonesia perlu menyikapinya dengan memperbaiki daya saing agar bisa memenangkan kompetisi di pasar global. [tar]

Komentar

x