Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 06:02 WIB

Andalkan Tumpang Sari, Kementan Genjot Pajale

Rabu, 5 Desember 2018 | 01:29 WIB

Berita Terkait

Andalkan Tumpang Sari, Kementan Genjot Pajale
Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim punya banyak jurus untuk mencapai target produksi pangan khususnya padi, jagung, dan kedelai (Pajale).

Menurut Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto, salah satu program yang akan dilakukan yakni pengembangan pola tanam tumpang sari padi, jagung, dan kedelai sistem tanam rapat. "Pertimbangan pola tumpang sari ini agar tidak terjadi persaingan penggunaaan lahan antara komoditas padi, jagung dan kedelai," kata Gatot di Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Menurut dia, selama ini, jika harga padi bagus maka petani akan menanami lahannya dengan padi. Akibatnya, jagung atau kedelai ditinggalkan. Sebaliknya, ketika harga jagung sedang tinggi maka petani akan menanamnya selama satu tahun berturut-turut, tanpa menyelinginya dengan kedelai. "Selain terjadi persaingan lahan, pola tanam tanpa pergiliran tersebut rentan dengan serangan hama," kata Gatot.

Untuk itu, lanjutnya, pola tumpang sari yang akan dikembangkan yakni padi-jagung, padi-kedelai, jagung-kedelai. Indonesia masih punya peluang untuk menggenjot produksi dengan pola tersebut sampai lima tahun ke depan sehingga dapat memitigasi alih fungsi lahan terutama akibat pembangunan infrastruktur. "Pola tumpang sari akan lebih dipacu lagi di tahun mendatang," ujar Gatot.

Menurut dia, luas penanaman dengan pola tumpan sari sistem rapat tersebut yakni untuk padi-jagung sekitar 350 ribu hektar, padi-kedelai 350 ribu hektar, dan jagung-kedelai 350 ribu hektar.

Terobosan lain yang akan diterapkan dalam peningkatan produksi pangan yakni optimalisasi penanaman padi gogo tidak hanya di lahan kering, tapi juga memanfaatkan gogo sawah, gogo gunung, gogo rawa, padi rawa, dan padi pasang surut.

"Potensi kita masih banyak untuk mengembangkan padi di luar lahan sawah. Tahun 2018 ini kita mengembangan padi gogo seluas 1 juta ha di areal lahan baru," katanya.

Menurut dia, alih fungsi lahan semakin tinggi, maka perluasan lahan di areal baru sebagai solusi untuk tetap mempertahankan produksi padi nasional.

Sementara itu dari sisi sarana produksi, penggunaan benih bermutu dan penyediaan bantuan benih pada 2018 seluas 6.788.210 hektar. Di mana, benih padi hibrida, padi hibrida, jagung, dan kedelai diharapkan mampu menyediakan benih varietas unggul.

Selain bantuan benih, Ditjen Tanaman telah mampu melampaui target Nawa Cita 1.000 Desa Mandiri Benih (DMB) yang mana hingga tahun ini telah dilaksanakan program DMB di 1.313 unit. "Dengan adanya DMB petani dapat diberdayakan untuk mampu memenuhi kebutuhan benihnya sendiri," katanya.

Sedangkan untuk pengamanan produksi dikembangkan budi daya tanaman sehat (BTS) di lahan endemis serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pada 2017 dilaksanakan di 13.610 hektar dan 2018 meningkat menjadi 33.000 hektar.

Berdasarkan laporan pengamat OPT di lapangan, produktivitas di lahan BTS meningkat dari semula 6,46 ton/hektar menjadi 8,7 ton/hektar, serangan OPT juga mengalami penurunan signifikan di tahun ini, sebesar 36,56% dari tahun sebelumnya.

Terbukti upaya gerakan pengendalian yang intensif selama ini mampu meminimalisir serangan OPT tahun ini. Untuk mengurangi susut hasil panen dan peningkatan nilai tambah, Ditjen Tanaman Pangan mengalokasikan bantuan alsintan pascapanen sebanyak 52.230 unit selama 2014-2018 .

Tahun 2018, tambahnya, memberikan dryer sebanyak 1.000 unit sehingga diharapkan tidak hanya produksi yang terjaga namun mutu panen juga baik yang akhirnya harga juga akan bagus.

Upaya lainnya yakni pengawalan atau pendampingan untuk mencapai sasaran produksi tanaman pangan. Pengawalan dilakukan dari aparat pusat, daerah, penyuluh lapangan sampai dengan tingkat kecamatan. [tar]

Komentar

x