Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 05:59 WIB

Rupiah Terus Menguat, Tapi Sampai Kapan?

Oleh : Latihono Sujantyo | Rabu, 5 Desember 2018 | 06:55 WIB

Berita Terkait

Rupiah Terus Menguat, Tapi Sampai Kapan?
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta--Hari-hari ini rupiah membuat kejutan. Kalau sebelumnya mata uang garuda ini hampir menyentuh Rp 16.000 per dolar AS, sekarang ini sudah di bawah Rp 14.400 per dolar AS. Alhamdulillah.... Bank Indonesia senang, pemerintah sumringah.

Ada dua faktor yang membuat rupiah mulai berotot. Pertama, arus modal asing kembali masuk. Selama November lalu, arus modal yang masuk ke pasar sekunder obligasi negara mencapai Rp33 triliun. Secara year to date (ytd) mencapai Rp61,74 triliun. Tapi masih kalah jauh dibandngkan dengan ytd November 2017 sebesar Rp164 triliun.

Modal asing ini masuk setelah beberapa hari lalu Gubernur Federal Reserve (the Fed), Jerome Powell, berpendapat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) itu ada di dekat level netral. Ini adalah perubahan penting dari bahasa yang disampaikan Powell dibandingkan sekitar dua bulan lalu. Saat itu, Powell memberi sinyal the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali di tahun 2019 dan satu kali pada 2020.

Sikap Powell yang kini berubah menimbulkan prediksi baru di pasar uang bahwa the Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuan satu kali di tahun 2019. Pelaku pasar kemudian mengubah arah: mereka kembali menempatkan dananya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Apalagi, Bank Indonesia (BI) November lalu menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate menjadi 6%.

Faktor kedua yang membuat rupiah menguat adalah sentimen penangguhan perang dagang antara AS dengan China. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati "gencatan perang dagang" dalam rangkaian pertemuan G-20 di Buenos Aires, Argentina pekan lalu.

Isi kesepakatan tersebut berisi persetujuan AS tidak menaikkan tarif sebesar 25% untuk barang-barang senilai US$ 200 miliar dari China. Sebaliknya China setuju untuk membeli sejumlah produk pertanian, energi, industri dan lainnya dari AS.

Dua faktor inilah yang membuat rupiah menjadi bertenaga. BI dan pemerintah sendiri berharap arus modal asing terus masuk ke Indonesia sehingga bisa menolong defisit transaksi berjalan, atau current account deficit (CAD).

CAD memang menjadi perhatian serius BI. Sebab, bukan apa-apa, biang kerok pelemahan nilai tukar rupiah selama ini adalah masalah CAD. Pada kuartal II-2018, CAD mencapai US$8 miliar atau 3,1% dari PDB. Namun pada kuartal III, CAD melebar lebih jauh hingga US$8,8 miliar atau 3,37% dari PDB.

Di akhir tahun ini, BI memperkirakan CAD berada di 2,8% dari PDB dan ditargetkan menurun menjadi 2,5% pada 2019. BI baru mulai nyaman bila CAD tidak lebih dari 2% dari PDB.

Apakah cita-cita itu bisa menjadi kenyataan? Belum tentu. Kalau hanya berharap the Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan, buang jauh-jauh harapan tersebut. Sebab, naik tidaknya suku bunga acuan the Fed sangat tergantung pasar tenaga kerja, inflasi, dan kegiatan ekonomi lainnya di AS.

Berharap perang dagang antara AS dengan China tidak ada lagi juga sebuah harapan yang konyol. Presiden Trump dengan gaya koboinya bisa menabrak kesepakatan yang sudah dibuat dengan China. Apalagi, kesepakatan itu hanya berumur 90 hari. Jika penyelesaian masalah perdagangantermasuk transfer teknologi, kekayaan intelektual, hambatan non-tarif, pencurian cyber dan pertanian--belum tercapai selama 90 hari, kedua pihak setuju tarif dagang sebesar 10% akan dinaikkan menjadi 25%.

Jadi, rentan sekali kalau hanya berharap dari "belas kasihan" the Fed dan Presiden Trump serta Presiden China Xi Jinping.

Betul, berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk menekan CAD, antara lain kewajiban penggunaan B20, penggunaan tingkat kandungan dalam negeri, pengendalian ratusan barang impor, dan yang terbaru revisi daftar negatif investasi (DNI) untuk mengundang investor asing masuk.

Tapi semua itu rasanya belum cukup. Impor bahan baku untuk industri manufaktur masih tinggi. Program hilirisasi yang didengungkan oleh pemerintah tidak pernah berjalan sesuai rencana. Seharusnya, industri bahan baku dikembangkan sehingga impor bahan baku tidak lagi tinggi.

Selain itu, impor minyak masih tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Tak hanya itu, pengembangan industri pangan tidak maksimal. Untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional, porsi impor mencapai 65% dibandingkan dengan produksi dalam negeri.

Celakanya lagi, sebagian besar industri jasa masih bertumpu pada dolar AS untuk bertransaksi. Contohnya pesawat terbang. Semua biaya menggunakan dolar AS, kecuali membeli tiket mengggunakan rupiah.

Itulah sebabnya, fundamental perekonomian nasional begitu rapuh. The Fed menaikkan suku bunga acuan, rupiah pontang-panting. Perekonomian AS dan China batuk sedikit, perekonomian Indonesia kalang kabut.

Jadi, penguatan rupiah yang berlangsung belakangan ini hanya bersifat sementara. [lat]

Komentar

x