Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 05:57 WIB

Berbalas Pantun Gejolak Nilai Tukar Rupiah 2019

Oleh : Herdi Sahrasad | Rabu, 5 Desember 2018 | 14:50 WIB

Berita Terkait

Berbalas Pantun Gejolak Nilai Tukar Rupiah 2019
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus menguat tiga pekan terakhir. Pada Oktober 2018 nilai tukar sempat menyentuh angka Rp15.000 per dolar AS. Sedangkan, pekan ini rupiah terus menguat di angka Rp14.400-14.500 per dolar AS. Namun para ekonom memprediksi, tahun depan nilai tukar rupiah akan berada di atas level Rp15.000 per dolar AS. Apa yang sedang terjadi?

Merujuk pada Kurs Refensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR berada di angka Rp 14.535 per dolar AS. Sedangkan di pasar sekunder, rupiah diperdagangkan pada level Rp 14.516 per dolar AS.

Ekonom Faisal Basri menyebut bahwa rupiah yang tengah menguat hari-hari ini karena kebijakan pemerintah untuk menarik utang. Dan hal ini kemudian menyebabkan dolar Amerika Serikat masuk sehingga memperkuat likuiditas di dalam negeri.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini terus menguat, dari yang beberapa bulan terakhir di atas Rp15 ribu per dolar AS, saat ini menjadi Rp14.300 per dolar AS. Penguatan itu diduga ekonom akibat utang yang terus dibuat oleh pemerintah, sehingga arus modal masuk ke RI.

Sekadar ilustrasi, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat utang BUMN sebesar Rp5.217 triliun per kuartal III 2018. Utang ini naik drastis jika dibandingkan dengan posisi utang pada 2016 sebesar Rp 2.263 triliun. Utang sebesar Rp 5.271 didominasi oleh utang perbankan dengan catatan Rp 3.300 triliun yang didominasi oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 74 persen. Kemudian, sektor non perbankan mencatat utang sebesar Rp1.960 triliun.

Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro mengatakan, bersamaan dengan pertumbuhan utang, aset BUMN juga tumbuh menjadi Rp 7.718 triliun per September 2018. "Rupiah membaik itu bukan karena darah keringat pemerintah tapi karena utang," kata Faisal Basri. Bayangkan, itu bukan karena kerja keras pemerintah, melainkan lantaran karena utang.

Faisal menjelaskan hal ini bisa dilihat dari masuknya dolar lewat tiga instrumen. Pertama adalah foreign direct investment atau investasi langsung luar negeri, kedua dari portofolio dan ketiga dan other investment atau investasi lain. Adapun investasi lain ini, terdiri dari penarikan utang baru sehingga dolar AS masuk dan pencicilan utang sehingga dolar keluar.

Dalam konteks ini, pemerintah telah melakukan penarikan utang lebih banyak. Misalnya pemerintah mendapat utang dari Bank Dunia untuk melakukan pembangunan kembali daerah bencana di Lombok maupun Sulawesi Tenggara. Belum lagi, Asian Development Bank yang juga ikut mengeluarkan dana pinjaman untuk pemulihan pasca bencana ke Indonesia. Hal itu, kata Faisal, juga didukung dengan terus melambatnya investasi luar negeri ke Indonesia. Padahal hal inilah yang seharusnya bisa mendatangkan dolar AS sehingga ikut membantu penguatan rupiah dan menambah likuiditas yang ada.

Karena itu, ke depan penguatan rupiah ini hanya bersifat sementara. Pada tahun depan, ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di atas level Rp 15.000 per dolar AS.

Merespon soal utang itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengaku heran, lantaran dari sisi rasio utang luar negeri, Indonesia terbilang lebih kecil di banding negara-negara lain. Di samping itu, di sebutkannya Indonesia juga dinilai lembaga international seperti World Bank dan IMF sangat kredibel dalam mengelola utang.

"Orang ribut kemarin rupiah, sekarang rupiah membagus dia bilang karena tambah utang, emang kita bego apa. Ada yang profit taking, yes, di mana-mana di dunia ada itu, tinggal sekarang kita mulai di buat peraturan sama BI (Bank Indonesia), makin bagus dan seterusnya," kata Luhut Panjaitan (Jumat, 30 November 2018)

Bahkan Luhut menyebutkan, Indonesia bukan lah negara miskin, hal itu tercermin dari tax ratio yang mencapai 12 persen terhadap PDB. Selain itu, dari sisi penerimaan APBN dikatakannya 83,5 persen berasal dari pajak dan terus mengalami kenaikan. World Bank,kata Luhut, menyebut bahwa state base kita kredibel.

Namun Ekonom Senior dan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution mengingatkan tentang sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah rentan untuk tertekan dan melemah kembali. Pertama, tekanan terhadap nilai tukar lebih banyak disebabkan oleh gelontoran devisa yang dikeluarkan dari Indonesia tidak sebanding dengan devisa yang masuk. Misalnya, lonjakan impor secara drastis tanpa diiringi dengan geliat ekspor. Padahal, devisa hasil ekspor bisa mempertebal devisa, dan membuat mata uang memiliki pijakan yang lebih kuat.

Kedua, ada beberapa masalah lain yang dianggap membuat nilai tukar rupiah melemah. Salah satunya keputusan pemerintah memberangkatkan jamaah haji dalam jumlah besar, yang menguras devisa. Ketiga, masalah lain adalah persoalan fundamental ekonomi yang cukup rentan. Sehingga, ketika kondisi perekonomian global mulai penuh dengan ketidakpastian, Indonesia akan terkena dampaknya.

Apalagi, saat ini kepemilikan surat utang Indonesia mayoritasnya dipegang oleh asing. Ketika terjadi gejolak, bisa saja obligasi tersebut dilepas, dan berdampak pada stabilitas nilai tukar.

"Tabungan kita sangat rendah, maka pemerintah ngutang jual obligasi.' Siapa yang beli? Cek di bursa efek, itu 70% yang beli adalah orang asing," tegas Anwar, guru besar FE-UI. Sehingga kalau pihak asing melepas obligasi pemerintah tersebut, maka rupiah bakal terjerembab.

Anwar Nasution mengatakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia dianggap belum mampu menahan gejolak dari luar. Buktinya, kata Anwar yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang berada di angka 10 persen. Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang berada di angka 20 persen, rasio penerimaan pajak Indonesia hanya setengahnya. "Padahal kita udah 73 tahun merdeka. Ngapain merdeka kalo ngutang melulu, pinjam melulu," ujarnya.

Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya pembayaran hutang di Indonesia juga meningkat. Selain itu, jika kurs meningkat juga mengakibatkan naiknya harga suatu komoditas. "Tempe, itu harganya naik karena impor kedelainya," tutur dia.

Anwar juga mengatakan lembaga keuangan dalam yang ada di Indonesia juga dinilai masih sangat lemah. Lembaga keuangan yang dimaksud yaitu bank pemerintah seperti empat bank negara (BUMN). "Maksudnya 4 bank negara ini enggak bisa lawan bank-bank seperti CIMB, Maybank dan juga Development Bank of Singapore."

Di tengah gejolak ekonomi global, perang dagang dan berlanjutnya deficit transaksi berjalan di negeri ini, analisis para ekonom sebaiknya tak diabaikan oleh pemerintah bahwa nilai kurs rupiah tetap rentan untuk melemah lagi tahun depan. Berbagai faktor yang melatari sudah diuraikan di atas, apalagi mengingat persoalan fundamental ekonomi yang lemah dan seterusnya. Masyarakat ingin kinerja pemerintah membaik dalam menarik investasi langsung asing (foreign direct investment), menaikkan ekspor dan memangkas impor yang menekan rupiah sebagai langkah nyata untuk memperkuat rupiah, bukan malah sebaliknya. Semoga. [berbagai sumber]

Komentar

x