Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 19:17 WIB

Dubes Eropa Lecehkan ISPO, Lukai Petani Sawit RI

Rabu, 12 Desember 2018 | 12:13 WIB
Dubes Eropa Lecehkan ISPO, Lukai Petani Sawit RI
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Riau - Beberapa waktu lalu, Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend memberi pernyataan yang bernada melecehkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Kontan saja pernyataan Vincent menuai protes keras dari kalangan petani sawit yang diwakili Asosiais Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dan Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade).

"Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend yang menyarankan pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)," kata Gulat Manurung, Ketua DPW Apkasindo Riau, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Gulat, bahwa statement Vincent cenderung berbau kepentingan dagang. Seharusnya, pihak Eropa fair melihat dari semua lini jangan hanya melihat sedikit lalu mengeneralisasi secara keseluruhan. "Sebagai Duta Besar UE untuk Indonesia tidak pantas menyampaikan pendapat seperti itu. Karena Indonesia sudah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki sistem industri perkelapasawitan di Indonesia secara menyeluruh. Saat ini pemerintah mengeluarkan regulasi di sektor perkelapasawitan dan evaluasi perbaikan regulasi penguatan ISPO yang semua itu bermuara kepada keberlanjutan," ujarnya.

Tolen Ketaren, Ketua Umum SAMADE, menyampaikan pendapat serupa. Menurutnya, Dubes Eropa sebaiknya lebih sering turun ke perkebunan sawit untuk melihat tata kelola sawit berdasarkan ISPO.

"Harusnya jika UE peduli dengan iklim mereka merubah fungsi kebun kedelai, jagung, rapeseed yang notabene lebih dari 220 juta hektar di Eropa dan Amerika menjadi fungsi hutan kembali. Bukan kejar indonesia yang luas sawitnya hanya 14 juta hektar," kata Tolen.

Gulat kembali meminta jangan membanding-bandingkan jumlah perusahaan yang sudah mengikuti RSPO dengan ISPO. Karena wajar sudah lebih banyak Perusahaan mengikuti RSPO karena RSPO sudah berdiri 2004 sedangkan ISPO baru akhir 2011 diluncurkan.

Data Komisi ISPO menunjukkan, sekitar 14 juta hektar perkebunan sawit di Indonesia, sebanyak 22,13% sudah bersertifikat ISPO. Atau setara dengan luasan 3.099 juta hektar. Dengan produksi CPO sekitar 11,03 juta ton termasuk 7 Koperasi Perkebunan Sawit Rakyat (plasma dan swadaya).

Mengingatkan kembali, Dubes Uni Eropa untuk RI Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend mengatakan, sertifikat ISPO belum cukup diakui untuk persyaratan ekspor minyak sawit ke Eropa.

Untuk itu, Vincent meminta Pemerintah Indonesia meninjau kembali standar ISPO dan mungkin membuatnya lebih bertanggung jawab dan transparan, dan melibatkan partisipasi masyarakat sipil. "Standar ISPO yang hanya diimplementasikan oleh 15 persen produsen minyak kelapa sawit di Indonesia belum dianggap standar umum dunia," kata Vincent. [tar]

Komentar

x