Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 21 Januari 2019 | 21:56 WIB

Intip Ekonomi Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 20 Desember 2018 | 15:45 WIB

Berita Terkait

Intip Ekonomi Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Desember 2018, memutuskan menahan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) sebesar 6%.

Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility diputuskan 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Bank sentral meyakini, keputusan tingkat suku bunga ini, konsisten dengan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman. Serta sinergis dengan upaya mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

"Termasuk telah mempertimbangkan tren pergerakan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/12/2018).

Perry menambahkan, BI berkomitmen akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, guna menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal, termasuk untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan yang kian ambles. "Pertumbuhan ekonomi dunia melandai serta ketidakpastian pasar keuangan tetap tinggi," kata Perry.

Perry menilai, pertumbuhan ekonomi AS yang menguat pada 2018, diperkirakan bakal mengalami konsolidasi pada 2019. "Prospek konsolidasi pertumbuhan ekonomi AS dan ketidakpastian pasar keuangan diprakirakan menurunkan kecepatan kenaikan suku bunga kebijakan the Fed (FFR) pada 2019, setelah pada 19 Desember 2018, sesuai dengan ekspektasi, dinaikkan 25bps menjadi 2,25-2,5%," katanya.

Sementara Eropa, Perry menilai, pertumbuhan ekonominya cenderung melambat. Meski arah normalisasi kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB) pada 2019 tetap akan menjadi perhatian.

Sedangkang negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus melambat dipengaruhi pelemahan konsumsi dan ekspor neto, antara lain akibat pengaruh ketegangan hubungan dagang dengan AS, serta berlanjutnya proses deleveraging di sistem keuangan.

"Pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai serta risiko hubungan dagang antar negara dan geo-politik yang masih tinggi berdampak pada tetap rendahnya volume perdagangan dunia," katanya. [ipe]


Komentar

x