Find and Follow Us

Sabtu, 25 Mei 2019 | 01:24 WIB

Nathaniel Menunggu Duitnya Kembali dari Hutama

Kamis, 20 Desember 2018 | 20:00 WIB
Nathaniel Menunggu Duitnya Kembali dari Hutama
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tak sedang bercanda, Nathaniel Tanaya, seorang oengusaha pengusaha yang juga mantan pialang, mengaku punya piutang bernilai puluhan miliar di PT Hutama Karya (Persero). Utang berbentuk obligasi mengendap hampir 20 tahun.

Kepada wartawan di Jakarta, Nathaniel mengungkapkan ihwal hak tagih obligasi miliknya senilai Rp11 miliar di Hutama Karya. Ceritanya, pada 1999, Nathaniel memutuskan untuk membeli surat utang perseroan senilai Rp11 miliar. Namun, ia dikejutkan ketika tiba-tiba namanya dihapuskan dari daftar pemilik obligasi saat perusahaan terpuruk pada awal 2000-an.

"Memang saat itu kondisi perusahaan sedang jatuh. Ibaratnya sedang tidak ada uang. Tapi tidak seharusnya nama saya jadi hilang, ini sangat tidak masuk akal," ucap Nathaniel, Rabu (19/12/2018).

Nathaniel berulangkali menanyakan kepada manajemen Hutama Karya tentang nasib duitnya itu. Namun, tak ada jawaban yang bisA memuaskannya.

"Mereka bilang ada direksi lama yang 'bermain' sehingga nama saya dihilangkan. Itu semakin aneh. Masak ganti direksi kemudian uang debitur dihilangkan begitu saja. Ibaratnya ini ada uang kertas, kemudian ada pergantian gubernur BI, lalu uang yang lama tidak terpakai. Logika yang mereka berikan sangat aneh," ungkapnya.

Hampir 20 tahun berlalu, kini PT Hutama Karya telah tumbuh kembali menjadi perusahaan besar dengan proyeknya yang mencapai triliunan.

"Mungkin dipahami dulu mereka tidak punya uang untuk membayar. Tapi sekarang mereka sudah kaya, proyeknya puluhan triliun. Apa susahnya membayarkan hak saya yang cuma segitu. Saya kira hal kecil buat mereka. Cuma dibutuhkan niat baik saja," kata dia.

Nathaniel memastikan memiliki bukti kuat atas hutang Hutama Karya terhadap dirinya berupa dokumen dan surat obligasi.
"Saya memiliki bukti kuat jika perusahaan milik Negara itu berhutang kepada saya. Bahkan mereka juga mengakui dokumen yang saya miliki ini asli," tuturnya.

Menurut Nathaniel, apa susahnya bagi perusahaan Negara membayar hutang yang cuma Rp11 miliar mengingat banyak proyek pembangunan di Indonesia dikerjakan oleh Hutama Karya.

"Di sini saya hanya meminta hak saya, bukan mau merongrong negara. Sekian lama saya sudah bersabar sambil mengamati perkembangan perusahaan itu. Sekarang HK sudah sangat besar. Sudah saatnya saya tagih kembali hak saya," ungkapnya. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x