Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Maret 2019 | 09:18 WIB

DPR Manajemen PLTU Teluk Sirih Padang Jadi Acuan

Oleh : Wahid Ma'ruf | Minggu, 23 Desember 2018 | 05:40 WIB

Berita Terkait

DPR Manajemen PLTU Teluk Sirih Padang Jadi Acuan
PLTU Teluk Sirih Padang - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Padang - Komisi VII DPR mengharapkan PLN untuk meningkatkan manajemen pengelolaan PLTU Teluk Sirih di Sumatera Barat untuk mendukung koneksi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan menambah kapasitas terpasang.

Demikian hasil kunjungan kerja Komisi VII DPR RI. Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu menilai, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu PLTU terbaik yang ada di Indonesia.

"PLTU yang kita kunjungi ini adalah PLTU yang terbaik dan kita lihat memang cukup bagus. Kita ingin memastikan hal itu. Dari hasil kunjungan lapangan, kita confirm bahwa PLTU ini terkelola dengan baik. Mudah-mudahan bisa terus terjaga, dan oleh PLN akan terus di-upgrade," kata Gus Irawan usai memimpin Tim Kunker Komisi VII DPR RI meninjau PLTU Teluk Sirih, Padang, Sumbar, seperti mengutip dpr.go.id.

Legislator Partai Gerindra ini juga mendapat informasi, selama ini ada kendala ombak-ombak yang terlampau besar. Dampaknya kapal-kapal tongkang pembawa batu bara tidak bisa merapat ke dermaga atau jetty di PLTU Teluk Sirih. Akibatnya, menjadi sulit untuk menampung batu bara agar tidak terkena hujan. Padahal jika batu bara terkena air hujan, pemanfaatannya menjadi tidak maksimal.

Pembangunan PLTU Teluk Sirih menghabiskan dana Rp2,3 triliun dan merupakan proyek PLTU teknologi China terbaik di Indonesia, dibanding produk China lainnya. PLTU ini menjadi bagian dari proyek pembangunan pembangkit listrik nasional dengan target penyediaan total energi baru mencapai 10.000 MW.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Daryatmo Mardiyanto memberi catatan penting pada pemanfaatan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) PLTU Teluk Sirih yang dapat dimanfaatkan 90 persen oleh PT. Semen Padang. Menurut Daryatmo, ini juga menjadi catatan di seluruh PLTU di Indonesia, terkait besaran pemanfaatan FABA oleh industri-industri lain.

"Kemudian, ini adalah PLTU yang menggunakan bahan baku batu bara low calorie, yang didatangkan cukup jauh. Batu bara low calorie ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan sistem dapat berlangsung dengan baik," kata legislator PDI-Perjuangan ini.

Daryatmo juga melihat, PLTU Teluk Sirih ini termasuk dalam koneksi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan menambah kapasitas terpasang. Artinya melebihi jumlah kapasitas rencana interkoneksi Sumatera yang segera terwujud. Harapannya, kelebihan-kelebihan kapasitas itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan daerah lainnya.

Dalam kesempatan ini, Daryatmo juga memberikan catatan mengenai data rasio elektrifikasi yang biasanya mengacu pada jumlah kepala keluarga (KK), namun kini mengacu pada rasio desa. Menurut dia, istilah baru ini harus diklarifikasi kepada Komisi VII DPR RI.

Sebab dengan menggunakan istilah rasio desa, jangan menjadi penonjolan lain dan menggeser rasio elektrifikasi yang selama inib berbasiskan kepada KK. "Data 55 juta KK yang kita peroleh dari data lama itu harus diperbarui dan harus di-update lagi dengan sebaik-baiknya. Tujuannya, agar basis KK menjadi pendekatan untuk menghitung rasio elektrifikasi, baik di tingkat pusat maupun daerah khususnya di Pulau Mentawai, Sumatera Barat ini," jelas legislator dapil Jawa Tengah itu.

PLTU Teluk Sirih milik PLN dengan kapasitas 2112 megawatt ini menghasilkan limbah dari pembakaran batu bara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) sekitar 50 ton sehari, yang merupakan bahan baku produksi semen. PLTU ini menggunakan sistem kerja Circulating Fluidized Bed (CFB), sehingga batu bara tidak dibakar langsung untuk untuk menciptakan uap, namun dicampur dengan pasir silika serta kapur untuk menghantarkan panas.

PLTU Teluk Sirih membutuhkan batu bara mencapai 1,2 juta ton/tahun, dengan kalori 400 kcal/kg, serta membutuhkan silika mencapai 7 ton per jamnya. Pembangkit ini telah terkenoksi ke dalam sistem kelistikan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) untuk komersial sejak Februari 2014.

Komentar

x