Find and Follow Us

Sabtu, 20 April 2019 | 22:23 WIB
Hightlight News

PVMBG: Gunung Anak Krakatau Masih Muda

Oleh : Wahid Ma'ruf | Minggu, 23 Desember 2018 | 14:01 WIB

Faktor Pemicu Tsunami

PVMBG: Gunung Anak Krakatau Masih Muda
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum memastikan pemicu gelombang tsunami di pantai barat Banten dan timur Lambang berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau.

Namun lembaga tersebut mengungkapkan perjalanan anak Gunung Krakatau sejak masih di bawah permukaan laut hingga secara rutin memuntahkan letusannya hingga Sabtu (22/12/2018) pukul 21.03 WIB.

Dalam catatan PVMBG menjelaskan Gunungapi Anak Krakatau terletak di Selat Sunda adalah gunungapi strato tipe A dan merupakan gunungapi muda yang muncul dalam kaldera, usai erupsi paroksimal tahun 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau.

Aktivitas erupsi setelah pembentukan dimulai sejak tahun 1927. Saat itu tubuh gunung api masih di bawah permukaan laut.

Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 1929. Sejak saat itu dan hingga kini G. Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar)," demikian keterangan PVMBG seperti mengutip esdm.go.id, Minggu (23/12/2018).

Saat ini G. Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava.

Pada tahun 2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini berupa letusan strombolian.

Letusan pada tahun 2018, precursor letusan 2018 diawali dengan munculnya gempa tremor dan penigkatan jumlah gempa Hembusan dan Low Frekuensi pada tanggal 18-19 Juni 2018. Jumlah Gempa Hembusan terus meningkat dan akhirnya pada tanggal 29 Juni 2018 G. Anak Krakatau meletus.

Lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh G. Anak Krakatau atau kurang dari 1 km dari kawah, tetapi sejak tanggal 23 Juli teramati lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai. "Jadi radius bahaya G. Krakatau diperluas dari 1 km menjadi 2 km dari kawah."

Aktivitas Terkini, Tanggal 22 Desember, seperti biasa hari-hari sebelumnya, G. Anak Krakatau terjadi letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap sekisar 300 - 1.500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm).

Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. "Pertanyaannya apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan, hal ini masih didalami," jelasnya.

1

Komentar

x