Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 06:57 WIB

Lifting Migas Jeblok, Untung Ada Rokan dan Mahakam

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 3 Januari 2019 | 07:09 WIB
Lifting Migas Jeblok, Untung Ada Rokan dan Mahakam
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala SKK Migas Dwi Sucipto mengamini kalau lifting minyak dan gas bumi pada 2018 tak mencapai target APBN sebesar 800 ribu barel per hari (bph).

Meski demikian, Dwi belum bisa menyebut berapa angka pasti realisasi lifting pada 2018. Mantan Dirut Pertamina ini mengaku tidak hafal datanya. Hanya saja, penurunan lifting migas di 2018 tertolong produksi dari Blok Mahakam dan Blok Rokan. "Ada Mahakam dan Rokan kalau tidak salah," kata Dwi di kantor Kementetian ESDM, Jakarta, Rabu (2/1/2018).

Terkait jebloknya lifting 2018, alumni ITS ini berjanji akan memaparkan realisasi lifting yang sebenarnya kepada publik. "Nanti ya," kata dia.

Sebelumnya, lifing minyak bumi pada November 2018 hanya mencapai 762 ribu barel per hari (bph). Data ini berasal dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).

Turunnya lifting migas tentunya bakal berdampak pada defisit neraca perdagangan sektor migas. Ketika masih menjabat Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi menyebut adanya defisit neraca perdagangan sektor migas pada 2018.

Menurut Amien, defisit neraca perdagangan sektor migas 2019 diperkirakan lebih besar ketimbang 2018. "Beberapa minggu lalu ada yang lucu lagi. Dari BI, BPS, Darmin mengatakan neraca pembayaran kita ini defisit. Defisitnya besar paling besar dari migas, bahkan dikatakan ini terbesar sejarah. Bapak salah, karena tahun depan akan besar lagi, tahun depannya lebih besar lagi," kata Amien dalam sambutan pelantikan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018).

Menurut Amien, SKK Migas sudah berusaha menaikan lifting minyak. Namun, tak bisa memenuhi kebutuhan. Sebab, kebutuhan minyak dalam negeri sangat banyak. "Tim SKK sudah berusaha meningkatkan produksi, tapi saya katakan kalau lihat lifting minyak paling naik 300 ribu bph. Itu bukan yang dibutuhkan Indonesia, Indonesia butuh 1,5 juta bph. Sejak jaman dulu tidak satupun perusahaan Indonesia pernah discovery seukuran giant discovery," kata dia.

Dengan demikian dia berharap kedepan ada temuan lapangan baru. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan minyak di dalam negeri dan menambal defisit migas. "Indonesia butuh giant discovery. Pertamina atau yg lainnya tidak pernah giant discovery. Tapi sekarang Pertamina dan perusahaan lain terikat kontrak dengan SKK untuk penggunaan eksplorasi dengan nilai 2miliar dolar AS," kata dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan migas pada kuartal III-2018 mencapai US$10,73 miliar, atau setara Rp158 triliun. Jika dibandingkan 2017 kian lebar. Di mana defisit migas hanya tercatat US$6,59 miliar. [ipe]


Komentar

x