Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:22 WIB

Lifting Migas 2018 Belum Oke, Jonan Janji Perbaiki

Oleh : Indra Hendriana | Minggu, 6 Januari 2019 | 15:09 WIB

Berita Terkait

Lifting Migas 2018 Belum Oke, Jonan Janji Perbaiki
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Capaian lifting minyak dan gas bumi (migas) pada 2018, meleset dari target APBN sebesar 2.000 juta barel setara minyak per hari (boepd). Realisasinya hanya 1.917 mboepd, atau 96% dari target.

"Capaian rata-rata lifting migas 2018 adalah 96 persen dari target APBN. 1,917,000 mboepd. Target 2 juta mboepd," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan, Jakarta, Jumat (4/1/2018).

Jonan mengamini bahwa realisasi lifting Migas 2018 mengalami penurunan dibanding 2017 yang mencapai 1,945 juta boepd. Secara rinci, realisasi lifting minyak sepanjang 2018 mencapai 778 ribu barel per hari (bopd). Sedangkan realisasi lifting gas bumi mencapai 1,139 juta boepd. "Naik turun naik turun memang, 2018 juga sedikit turun. Produksi sih, kurang lebih naik ya," kata dia.

Dengan demikian, dia meminta di tahun mendatang bisa meningkat. Terlebih, kata dia, Blok Mahakam dan Blok Rokan sudah diserahkan kepada PT Pertamina (Persero). "Saya minta tahun (2019) ini liftingnya diperbaiki. SKK Migas sudah diminta perbaiki," kata dia.

Turunnya lifting migas tentunya bakal berdampak pada defisit neraca migas. Mantan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi sebelumnya menyebut, defisit migas pada neraca perdagangan tahun 2018 belum seberapa. Hal ini bila dibandingkan dengan tahun depan.

Menurut dia, defisit migas tahun depan lebih besar dari tahun ini. "Beberapa minggu lalu ada yang lucu lagi. Dari BI, BPS, Darmin mengatakan neraca pembayaran kita ini defisit. Defisitnya besar paling besar dari migas, bahkan dikatakan ini terbesar sejarah. Bapak salah, karena tahun depan akan besar lagi, tahun depannya lebih besar lagi," kata Amien dalam sambutan pelantikan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018).

Jonan bilang, SKK Migas sudah berusaha menaikan lifting minyak. Namun, tak bisa memenuhi kebutuhan. Sebab, kebutuhan minyak dalam negeri sangat banyak.

"Tim SKK sudah berusaha meningkatkan produksi, tapi saya katakan kalau lihat lifting minyak paling naik 300 ribu bph. Itu bukan yang dibutuhkan Indonesia, Indonesia butuh 1,5 juta bph. Sejak jaman dulu tidak satupun perusahaan Indonesia pernah discovery seukuran giant discovery," kata dia.

Dengan demikian dia berharap kedepan ada temuan lapangan baru. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan minyak di dalam negeri dan menambal defisit migas.

"Indonesia butuh giant discovery. Pertamina atau yg lainnya tidak pernah giant discovery. Tapi sekarang Pertamina dan perusahaan lain terikat kontrak dengan SKK untuk penggunaan eksplorasi dengan nilai USD2 miliar," kata dia. [ipe]

Komentar

x