Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:04 WIB

Di Balik Penghargaan The Banker untuk Jeng Sri

Oleh : Herdi Sahrasad | Senin, 7 Januari 2019 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Di Balik Penghargaan The Banker untuk Jeng Sri
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Awal tahun ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati diganjar penghargaan sebagai menkeu terbaik oleh The Banker, majalah keuangan international. Menariknya banyak cibiran lantaran di bawah Jeng Sri, utang membubung tinggi.

Menguatnya kontroversi atas penghargaan The Banker untuk Sri Mulyani, selanjutnya menjadi konsumsi publik khususnya dari kaum terpelajar. Ya memang miris. Tiga tahun ini, pertumbuhan ekonomi tak beranjak dari 5-5,1%. Dengan beban utang luar negeri sudah di atas Rp5.000 triliun.

Urusan utang, kondisi Indonesia tak ubahnya pepatah: Besar Pasak Daripada Tiang. Tidak ada lagi kemandirian, kecuali ketergantungan pada asing, dengan praktik Neoliberalisme yang menghancurkan harapan rakyat dan bangsa mewujudkan Trisakti dan pasal 33 UUD45. Mengapa?

Radhar Tribaskoro, seorang analis ekonomi-politik, mencatat bahwa The Banker adalah media corong kaum neoliberal sedunia. Neoliberalisme adalah topik yang sangat luas mencakup sejarah, filsafat, politik, ekonomi, geografi dan sebagainya.

Oleh karena itu neoliberalisme memiliki varian yang juga sangat luas yang dibedakan menurut variasi-variasi sejarah, filsafat, dan sebagainya.

Pembahasan di sini hanya bersifat sketsa, bila diperlukan bisa dikembangkan lebih mendalam.
Ideologi neoliberal memiliki tujuan menjaga kepentingan orang-orang kaya. Neoliberal adalah salah satu ideologi yang menempatkan demokrasi dan kapitalisme sebagai nilai-nilai utamanya.

Tariq Ali, seorang aktivis dan penulis anti kapitalsm, mengatakan bahwa rezim yang menerapkan kapitalisme demokrasi, ideologi neoliberal cenderung lebih mengetatkan regulasi kepada demokrasinya ketimbang kepada kapitalisnya.

Dalam hal ini, tak mengherankan kalau Presiden RI era 1998-1999, yakni Prof BJ Habibie mengajak rakyat agar memerangi neoliberalisme. Menurutnya, kaum neolib telah membuat Indonesia rusak.

"Jangan takut pada para neolib. Kalau kita bersatu, mereka tidak ada apa-apanya dan saya sudah buktikan itu," kata Habibie.

Pakar pesawat terbang itu, menyebut orang-orang neolib yang menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar. Karena itu, kelompok neolib tidak ingin Indonesia maju dan menguasai teknologi.

Dia lantas mencontohkan PT Dirgantara Indonesia yang dahulu berjaya, tapi kini tinggal kenangan. Namun, katanya, kaum neolib memaksa industri strategis itu dimatikan.

"Saya sedih melihat tokoh-tokoh berpengaruh malah menginginkan kita impor terus. Kita hanya mengekspor tenaga kerja, apa hebatnya? Harusnya kita jauh lebih hebat dari itu karena orang-orang kita cerdas-cerdas," tuturnya

Kembali ke Radhar Tribaskoro menilai, rezim neolib Jokowi (seperti halnya SBY), kentara sekali. Yakni menerapkan regulasi yang ruwet dan berlapis-lapis, untuk menghambat kebebasan berbicara yang merebak di dunia maya.

Sementara, orang-orang kaya menguasai aset strategis dan vital, berjalan tanpa hambatan. Jadi, jangan kaget apabila ketimpangan ekonomi kian memburuk. Tidak ada kebijakan pemerintah yang signifikan untuk memperluas dan meningkatkan kekayaan the bottom of the pyramid.

Coba simak pujian The Banker kepada Sri Mulyani yang dianggap berhasil mengelola stabilitas keuangan di tengah bencana mendera. Ini kualifikasi apaan? Di mana ada negara di dunia yang bangkrut, karena alasan bencana? Hal yang tidak signifikan kenapa bisa menjadi kriteria?

Kedua, The Banker mengatakan bahwa Sri Mulyani sukses karena berhasil mengelola resiko bencana, melalui asuransi dan sebagainya. Kelaziman yang berlaku dalam pemberian penghargaan, seperti misalnya diterapkan oleh Panitia Nobel, penghargaan diberikan kepada seseorang berdasarkan kepada dampak (perbuatan atau kebijakannya), bukan dari rencananya.

Skema asuransi bencana baru direalisasikan tahun lalu. Skema itu belum menunjukkan bukti, misalnya percepatan dan peningkatan kualitas pemulihan akibat fisik bencana, kepuasan rakyat terdampak bencana, maupun perbaikan mekanisme mitigasi bencana. Tentang semua itu model asuransi bencana SMI belum menghasilkan apa-apa.

Ini jelas alasan minor. Nilai asuransi itu hanya 15 Trilyun rupiah. Bagaimana bisa efisiensi sebesar $1 milyar untuk negara sebesar Indonesia sudah bisa bikin tergetar bankir sedunia?

Ketiga, The Banker menyebutkan SMI sukses sebab berhasil melahirkan inovasi perpajakan. Itu sama sekali keliru. Sebuah inovasi haruslah memberikan dampak positif. Kenyataannya, rasio pajak Indonesia 2018 hanya 9,2%. Atau terendah dalam 45 tahun terakhir, menurut ekonom Gede Sandra.

Jadi kenapa The Banker mau memberi penghargaan tanpa dasar yang layak? Tidakkah The Banker takut dianggap memperjual-belikan kredibilitasnya?

Bagi kapitalis, jual-beli adalah sebuah metode dan bagi mereka tidak ada yang tidak bisa diperjual-belikan. Di mana, Ani, sapaan karib dari Sri Mulyani, adalah elemen kunci bagi tetap bercokolnya pengaruh neoliberal di Indonesia. Dalam hal ini, Ani bisa saja berlaku sebagai penjaga kepentingan kekuatan neoliberal terbesar di dunia: yakni Bank Dunia dan IMF.

Maka ketika The Banker memberi penghargaan kepada SMI, itu sama dengan ketika tuan memberi pujian kepada budaknya. Pujian diberikan agar harga sang budak naik di pasaran, dan pada saat yang sama supaya budaknya itu mau bekerja lebih keras untuk sang tuan.

Karena alasan itulah Hitler memberi pujian kepada Mussolini dengan menyebutnya "kakak tertua" (fasisme Italia lahir lebih dulu ketimbang Jerman). Hitler terus melambungkan Mussolini sebagai setara dengan Julius Caesar, "Pewaris sah dari kaisar-kaisar termulia di masa lalu."

Menurut Radhar, rancangan utama prinsip-prinsip neoliberal adalah menyerang langsung demokrasi sejati. Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu tempat dimana keuntungan menjadi milik pribadi tetapi kerugian menjadi beban sosial , seperti studi Greg Palasz.

Yang pasti, The Banker adalah pengusung neoliberalisme yang membikin sesak atmosfir dengan mempersempit ruang publik. Serta menghancurkan Trisakti (Kemandirian, Kedaulatan dan Berkepribadian dalam Kebudayaan).

Dikombinasikan dengan komersialisasi politik maka terciptalah kehidupan politik yang beracun dan tidak inspiratif-penuh dengan celoteh dan cemooh, kosong dari kesungguhan intelektual, penggiringan orang-orang dungu, manipulasi pemilu, dan skandal korporasi, selebritas politik dan media. [ipe]



Komentar

x