Find and Follow Us

Selasa, 18 Juni 2019 | 13:15 WIB

Jaga HBA, KESDM Pangkas Produksi Batu Bara

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 7 Januari 2019 | 16:35 WIB
Jaga HBA, KESDM Pangkas Produksi Batu Bara
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas produksi batu bara pada tahun 2019 ini. Dari sebelumnya di tahun 2018 sebesar 485 juta ton menjadi 480 juta ton.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot mengatakan, hal ini dilakukan pemerintah untuk menjaga harga batu bara tetap bagus. Bahkan dengan pemangkasan ini diharapkan Harga Batu Bara Acua (HBA) ke depan bisa menguat. "Macam macam lah. supaya harga (HBA) bagus, semuanya, komprehensif," kata Bambang di Kementerian ESDM, Senin (7/1/2018).

Hanya saja, kata dia, ke depan peluang penambahan produksi batu bara, kata Bambang, terbuka. Yakni sewaktu revisi Rancangan Kerja Anggaran Biaya (RKAB) pada Juli 2019. Yang pasti, lanjut dia, jumlah produksi ini sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Nanti kita lihat perkembangannya, dan biasanya perusahaan mengajukan revisi itu paling lambat juli. nanti kita lihat," ujar dia.

Di tahun 2018 lalu produksi batu bara mencapai 528 juta ton, atau lebih tinggi dari target produksi hanya 485 juta ton.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada Januari 2019 sebesar US$92,41/ton. Harga ini turun tipis bila dibandingkan pada bulan Desember 2018 senilai US$92,51/ton.

Faktor yang menjadi turunnya HBA pada Januari 2018 disebut karena kebijakan Pemerintahan China yang membatasi impor batu bara.

Kementerian ESDM sudah menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Januari 2019 sebesar US$92,41/ton. Harga tersebut sedikit terkoreksi dibandingkan HBA di Desember 2018 sebesar US$92,51/ton.

Kebijakan Pemerintahan Tiongkok yang membatasi impor batu bara menjadi penyebab terkoreksi harga di awal 2019 ini.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan mengatakan, penurunan harga tidak signifikan lantaran hanya US$0,1/ton saja.

"HBA Januari ditetapkan US$92,41/ton," kata Agung di Jakarta, Kamis (3/1/2018).

Agung menerangkan, pengaruh kebijakan China pembatasan impor mempengaruhi HBA karena pasokan global berlebih. Tapi permintaan batu bara berkutang. Tentu ini yang mempengaruhi harga.

Dia menjelaskan formula HBA ditetapkan Kementerian ESDM berdasarkan index pasar internasional. Ada 4 index yang dipakai yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59. Adapun bobot masing-masing index sebesar 25% dalam formula HBA. "Kebijakan Pemerintah Tiongkok yang mempengaruhi harga," ujarnya.

Berdasarkan catatan terkoreksinya harga batu bara di awal 2019 lebih rendah ketimbang di awal 2018. Pasalnya di Januari tahun lalu itu HBA ditetapkan sebesar US$95,54/ton. Sementara dipenghujung 2017 HBA sudah menembus level US$100/ton. [hid]

Komentar

Embed Widget
x