Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:03 WIB

Minyak Nabati Dunia Banjir, Industri CPO RI Letoi

Selasa, 8 Januari 2019 | 09:09 WIB

Berita Terkait

Minyak Nabati Dunia Banjir, Industri CPO RI Letoi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Perkembangan harga minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) belum bagus. Pada November 2018 nyungsep ke US$ 473,6 per metrik ton. Terendah sejak Juli 2006.

Memburuknya harga CPO ini diduga lantaran berlimpahnya stok minyak nabati global, seperti sawit, kedelai, biji bunga matahari, dan rapeseed. Disampaikan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono di Jakarta, Senin (7/1/2019). "Keadaan juga diperparah dengan lemahnya permintaan pasar global, sehingga harga masih akan sulit terangkat," kata Mukti.

Dia mengatakan, sepanjang November 2018 kinerja ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan. Rendah harga tidak serta merta mendorong pembelian dari sejumlah negara pengimpor minyak sawit. Volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, olechemical, dan biodiesel) turun 4% dibandingkan bulan sebelumnya. Atau dari 3,35 juta ton menjadi 3,22 juta ton.

Khusus volume ekspor CPO, PKO dan turunannya saja (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) mencapai 2,99 juta ton atau turun 5% dibandingkan pada Oktober lalu yang membukuan 3,14 juta ton.

Dijelaskan Mukti, dari total ekspor 2,99 juta ton ini terdiri dari CPO sebanyak 866,19 ribu ton, atau 29% dari total ekspor, sedangkan sisanya 2,13 juta ton (71% dari total ekspor) adalah produk turunan dari CPO.

Pada November 2018, lanjutnya, Pakistan mencatatkan rekor tertinggi pembelian minyak sawit terbanyak sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia dan Pakistan yaitu sebesar 326.410 ton atau naik 32% dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 246.970 ton.

"Harga minyak sawit yang murah dan pengisian stok sepertinya menjadi faktor pendorong naiknya impor minyak sawit oleh Pakistan," ujarnya.

Ke depan, lanjut Mukti Sardjono, dengan semakin luasnya Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Pakistan, serta sedang dijajaki untuk ditingkatkan menjadi perdagangan bebas, maka peluang Indonesia untuk terus meningkatkan perdagangan minyak sawit akan semakin besar.

Sebaliknya, Mukti menyitir data Gapki, ekspor minyak sawit Indonesia ke Tiongkok turun 20%. Demikian pula Uni Eropa turun 21%, Amerika Serikat 10%, dan Bangladesh 58%. Penurunan impor dari negara-negara ini disebabkan masih tingginya stok minyak nabati di dalam negeri. [tar]

Komentar

x