Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:10 WIB

Jagung, Kok, Impor...

Oleh : Latihono Sujantyo | Selasa, 8 Januari 2019 | 18:20 WIB

Berita Terkait

Jagung, Kok, Impor...
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta--Katanya produksi jagung berlimpah, bahkan sampai bisa ekspor, tapi kok malah impor. Ada apa? Padahal, impor menguras banyak devisa.

Habis beras, geger jagung. Begitulah pemerintah mengelola komoditas pangan. Bilangnya surplus, tapi faktanya Perum Bulog ditugaskan untuk mengimpor jagung sebanyak 30.000 ton pada Februari 2019, seperti dilaporkan INILAHCOM, Selasa (8/1/2019).

Impor jagung itu diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. "PI (persetujuan impornya) masih diproses, menunggu penugasan dari Menteri BUMN," kata Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan.

Alasan mengimpor jagung, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmi Nasution, untuk mengatasi kelangkaan jagung di sejumlah daerah. Dengan masuknya jagung impor, harga jagung di dalam negeri bisa ditekan.

Selain itu, impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi peternakan ayam skala kecil, khususnya ayam petelur, yang saat ini mengalami kondisi kritis karena kekurangan suplai jagung. Tapi, karena harga jagung terus melambung, maka impor dilakukan. ta

Saat ini, harga jagung di pasar berkisar Rp5.200-Rp5.300 per kg. Padahal, harga pokok penjualan (HPP) Rp4.000 per kg. Hitungan pemerintah, dengan masuknya jagung impor, harga jagung bisa sesuai HPP.

Betul? Banyak yang meragukan. Target pemerintah mengimpor 30.000 ton jagung untuk menurunkan harga dari Rp5.300 menjadi Rp4.000 per kg tidak masuk akal. Bagaimana mungkin 30.000 ton jagung mampu menurunkan harga?

Lha, lantas ada apa? Entahlah. Sebab, bukan apa-apa ya, tempo hari Kementerian Pertanian bilang bahwa produksi jagung mengalami surplus. Perhitungannya, produksi mencapai 28,48 juta ton dengan kebutuhan hanya 15,5 juta ton. Alhasil, masih surplus sebesar 12,98 juta ton. Dengan surplus tersebut, Kementerian Pertanian bahkan menyebut Indonesia bisa mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton.

Adapun konsumsi jagung dalam negeri, sebagian besar atau sekitar 8,75 juta ton jagung diserap sektor pakan ternak, peternak mandiri 2,52 juta ton, benih 120 ribu ton, dan untuk kebutuhan industri 4,76 juta ton.

Berdasarkan data itu, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa produksi jagung nasional tetap berada pada posisi surplus tahun 2018. Dengan produksi yang tinggi, Kementerian Pertanian menduga kenaikan harga jagung lebih disebabkan oleh masalah distribusi.

Asal tahu saja, sentra produksi jagung nasional saat ini berada di 10 provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sumatera Barat dengan total produksi mencapai 24,24 juta ton dan berkontribusi 83,8% terhadap total produksi jagung dalam negeri.

Itulah sebabnya, keputusan mengimpor jagung sebanyak 30.000 ton patut dipertanyakan. Sebab, impor itu menguras devisa. Padahal, devisa untuk mengimpor itu bisa digunakan sebagai tambahan untuk memompa perekonomian dalam negeri. [lat]

Komentar

x