Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Maret 2019 | 06:49 WIB

Smelter Enggak Jelas, Freeport Ngemis Izin Ekspor

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 9 Januari 2019 | 06:09 WIB

Berita Terkait

Smelter Enggak Jelas, Freeport Ngemis Izin Ekspor
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Freeport Indonesia (PTFI/Freeport) sudah mengajukan perpanjangan rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pengajuan dilakukan karena rekomendasi yang berlaku satu tahun itu, akan berakhir pada 15 Februari 2019. Juru bicara Freeport Indonesia, Riza Pratama mengamini pihaknya sudah memberikan permohonan itu kepada Kementerian Energi. Tapi Riza tidak merinci berapa jumlah volume ekspor konsentrat tembaga yang diajukan. "Sudah kami ajukan perpanjangan," kata Riza di Jakarta, (8/1/2018).

Dia juga belum bisa merinci kemajuan pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur. Padahal pembangunan smelter adalah salah satu syarat utama mendapatkan perpanjangan rekomendasi ekspor.

Evaluasi kemajuan smelter dilakukan Kementerian ESDM setiap enam bulan sekali terhitung sejak diterbitkannya rekomendasi ekspor. Setiap evaluasi itu progres smelter minimal 90% dari rencana kerja. Bila tidak mencapai target tersebut maka izin ekspor akan dicabut.

Sekedar informasi, kemajuan smelter Freeport baru mencapai 2,43% pada Februari 2018. Progresnya berupa penimbunan lahan smelter seluas 200 hektar. Adapun kegiatan tersebut menelan investasi hingga US$100 juta.

Berdasarkan rencana kerja hingga Agustus 2017, progres tambahan sebesar 2,75%. Dengan begitu total kemajuan pembangunan smelter mencapai 5,18%. Rencana kerja pembangunan pada 2018, antara lain berupa stabilitas lahan pondasi, menyusun studi kelayakan, dan perencanaan dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal).

Diperkirakan dana yang dikucurkan selama satu tahun ini sebesar US$110 juta. Pada 2019, pembangunan akan memasuki tahap konstruksi. Adapun lokasi pembangunan smelter Freeport berada di kawasan industri Gresik, Jawa Timur yakni Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).

Freeport sebenarnya mulai membangun smelter sejak 2014. Pembangunan smelter itu seiring dengan kebijakan pemerintah yang hanya mengizinkan mineral hasil olahan untuk diekspor.

Lokasi smelter kala itu menyewa lahan milik PT Petrokimia Gresik. Namun pada 2017 kemarin lokasi berpindah ke JIIPE. Pemilihan lokasi smelter di JIIPE berdasarkan sejumlah pertimbangan.

Selain luas wilayah, lokasi smelter dekat dengan pelabuhan. Dengan begitu memudahkan proses pengapalan hasil pemurnian konsentrat tembaga. Ketersediaan suplai energi yang dijamin oleh kawasan industri melalui JIIPE. Sementara untuk kapasitas smelter tetap 2 juta ton konsentrat. [ipe]

Komentar

x