Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:17 WIB

Karpet Merah BKPM untuk Investasi Kapas Kosmetik

Rabu, 9 Januari 2019 | 12:50 WIB

Berita Terkait

Karpet Merah BKPM untuk Investasi Kapas Kosmetik
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta Sejumlah investor Uni Eropa kepincut membangun industri kapas kosmetik dan kesehatan di tanah air. Kabar ini mendapat respons positif dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Farah Ratnadewi Indriani, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM mengatakan, masuknya investor asing termasuk dari Eropa, memberikan sinyal positif bagi pemerintah yang gencar mendorong bertumbuhnya investasi.

Tentu saja, ketertarikan investor untuk membangun bisnis di Indonesia, bukan jatuh dari langit begitu saja. namun dengan berbagai variabel ekonomi yang menjanjikan. Suka atau tidak, Indonesia adalah pasar menggiurkan di masa depan.

Lantaran, 60% dari total jumlah penduduk adalah usia produktif. Selain itu, Indonesia sebagai anggota G20, memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang lumayan bersinar. Wajarlah bila pemodal tertarik untuk menancapkan dananya di Indonesia.

"Investasi dari Eropa juga akan memberikan keuntungan bagi sektor industri dalam negeri. Sebab, biasanya investor asal Eropa membawa teknologi yang termutakhir dan bisa diaplikasikan di dalam negeri dan tentunya ini sejalan dengan program pemerintah melalui industri 4.0," kata Farah.

Selain pasar dalam negeri, nilai pasar produk kosmetik global diperkirakan US$805,61 miliar pada 2023. Atau mencatatkan CAGR sebesar 7,14% selama 2018-2023. Data yang dilansir OrbisResearch bertajuk "Global Cosmetics Products Market-Analysis of Growth, Trends and Forecasts (2018-2023)" menyebutkan, yang termasuk dalam produk ini adalah kosmetik dan perawatan kulit termasuk kapas kesehatan.

"Industri kosmetik atau produk kecantikan, secara global, adalah salah satu sektor yang tahan banting meskipun pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Hal ini disebabkan oleh penggunaan produk yang terus menerus dan meningkat oleh wanita dan semakin meningkat di kalangan pria," demikian tulis laporan tersebut.

Faktor lain yang membuat sektor ini memiliki daya tahan dan tren pertumbuhan yang terus positif adalah menurunnya tingkat kesuburan dan kematian yang membuat peningkatan populasi yang menua. Kaum perempuan dan pria secara global, makin menyadari pentingnya mempertahankan penampilan.

Hal itu membuat permintaan dan konsumsi terhadap produk perawatan kecantikan tumbuh semakin positif dan kuat, sekaligus mendorong pertumbuhan industri produk kecantikan. Salah satu produsen yang menikmati kue pasar yang terus membesar ini adalah PT Cottonindo Ariesta Tbk, salah satu produsen kapas kecantikan besar dunia.

"Saat ini produksi kami sekitar 100 ton per bulan. Kami ekspor ke Filipina, Myanmar, Australia, Hongkong, Taiwan, dan Korea Selatan," kata Johan Kurniawan, Corporate Secretary Cottonindo Ariesta.

Dengan bertambahnya investor bahan baku kapas kecantikan, yakni cotton comber, hal ini akan membuat daya saing Cottonindo semakin kuat. Tercatat, di dunia perusahaan manufaktur kapas kecantikan dengan kapasitas besar yang menggunakan cotton comber sebagai bahan baku jumlahnya tidak lebih dari 10 perusahaan, salah satu diantaranya adalah Cottonindo Ariesta.

Salah satu negara yang mengimpor produk kapas kecantikan buatan Cottonindo adalah Korea Selatan. Kerja sama bisnis tersebut sekaligus menjadi jembatan bagi perseroan untuk menembus pasar China yang merupakan pasar produk kecantikan terbesar dunia.

Di mana, Korea Selatan merupakan eksportir produk kecantikan di dunia, disusul China dan Prancis. Nilai eksporsebesar US$2,59 miliar per tahun. Berasal dari 900 jenis produk yang berbeda. Selain bersandar pada popularitas K-Pop, Film dan drama Korea, perusahaan produk kecantikan asal negeri ginseng juga dikenal memiliki kemampuan inovasi produk hilir yang sangat cepat.

Sementara untuk produk hulu yakni bleach sliver mereka lebih mengandalkan untuk mengimpor dari negara lain, salah satunya dari Cottonindo. Sebelumnya beredar kabar, investor asal Korea Selatan bersaing dengan investor Prancis untuk masuk ke industri pengolahan kapas di dalam negeri. "Investor asing sebaiknya mempelajari budaya bisnis di Indonesia seperti bagaimana mereka memasarkan produk dan membangun lini distribusi di seluruh Indonesia," tandas Farah. [tar]

Komentar

x