Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Maret 2019 | 00:20 WIB

Puluhan Perusahaan Tambang Tak Ikuti DMO Batu Bara

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 9 Januari 2019 | 20:11 WIB

Berita Terkait

Puluhan Perusahaan Tambang Tak Ikuti DMO Batu Bara
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkap, lebih dari 10 perusahaan tambang tidak memenuhi pasokan batu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO) di 2018.

Dengan demikian, Kementerian Energi akan memberikan sanksi pengurangan produksi tahun 2019. Namun pembatasannya itu tidak sebesar 4 kali realisasi penyaluran DMO sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM No. 23 K/30/MEM/2018.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan persetujuan rencana kerja anggaran biaya (RKAB) 2019 pelaku batu bara merujuk pada realisasi DMO di tahun lalu. Dari hasil evaluasi masih menemukan perusahaan yang belum memenuhi kewajiban DMO tersebut. Hanya saja dia tidak mengungkapkan nama-nama perusahaan tersebut.

"Yang kena penalti ada lebih dari 10 perusahaan. Produksi mereka terpengaruh kalau nama-nama disebutkan, takutnya mempengaruhi harga komoditi kalau di publish nama namanya," kata Bambang dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Bambang menuturkan kuota DMO ditetapkan 25% dari rencana produksi masing-masing perusahaan. Dari hasil evaluasi ada yang sama sekali tidak mengalokasikan untuk kebutuhan dalam negeri. Kemudian ada yang berkisar 10-15%.

Dengan demikian, sanksi pembatasan produksi yang diberikan bervariasi. Pasalnya ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan seperti aspek sosial dan tenaga kerja.

"Produksi yang diizinkan tidak sesuai permohonan mereka. Ada yang setengah, ada yang 1/4 (dari permohonan). Ini jadi pelajaran bahwa kami tidak main main," kata dia.

Sanksi tersebut tidak berpengaruh pada target produksi batu bara tahun ini. Pasalnya Kementerian ESDM memberikan apresiasi penambahan produksi bagi perusahaan yang memasok ke dalam negeri lebih dari 25% di tahun lalu.

Namun dia tidak membeberkan berapa banyak perusahaan yang mendapatkan bonus berupa tambahan produksi tersebut. Bambang menuturkan penambahan tersebut harus sesuai dengan studi kelayakan (feasibility study) dan analisis dampak lingkungan (amdal).

"Ada yang kami berikan140% dari produksi 2018 karena DMO lebih dari 25%. Ada yang juga 100% saja dari produksi 2018," katanya. [hid]

Komentar

x